OBAT KUAT PRIA PIN BB 29DA00C1 CALL 081222264774

Obat Kuat Pria Penambah Stamina Berhubungan Sex,Ereksi Kuat,Tahan Lama,,,,Mengatasi Ejakulasi Dini Dan Lemah Sahwat.

PEMBESAR PENIS ORIGINAL PIN BB 29DA00C1 CALL 081222264774

obat pembesar vimax » pembesar penis » pembesar penis alamai » pembesar penis oil » vacum penis jakarta » Pembesar Penis Alami Vimax Canada Murah

ALAT BANTU SEX PRIA PIN BB 29DA00C1 CALL 081222264774

Alat Seksualitas Pria Yang Paling Besar Ukuranya Berbentuk Seukuran Seluruh Badan Manusia Normal Dan Dengan Di Lengkapi Boneka Vagina Yang Berbahan Karet Silikon Lembut, Lentur, Halus.

ALAT BANTU SEX WANITA PIN BB 29DA00C1 CALL 081222264774

Alat Seksualitas Wanita Yang Paling Besar Ukuranya Berbentuk Seukuran Seluruh Badan Manusia Normal Dan Dengan Di Lengkapi Boneka Vagina Yang Berbahan Karet Silikon Lembut, Lentur, Halus.

Selasa, 31 Maret 2015

Pria Perkasa Mempunyai Cara Alamiah Ini

Pria Perkasa Mempunyai Cara Alamiah Ini
pria perkasa di ranjang Menjadi pria perkasa pasti saja adalah dambaan setiap pria, khususnya menjadi perkasa di ranjang yang bisa memuaskan pasangannya untuk memperoleh nilai kehidupan seksual yang optimal.
Kebanyakan sekarang banyak pria memakai obat-obatan peningkat vitalitas pria semacam Viagra untuk meningkatkan kemampuan seksnya.

Padahal telah jelas obat-obatan itu ditargetkan khusus untuk mereka yang mempunyai persoalan dengan kemampuan ereksinya.

Menurut survey yang dilakukan oleh para peneliti dari VA Boston Healthcare System dan University of Texas kepada 1200 pria dewasa mengenai tujuan pemakaian obat-obatan tersebut dindapatkan hasil bahwa sebagian besar mereka mengaku tidak mempunyai problem dengan kemampuan ereksinya.

Mereka semata hanya ingin menjadi pria perkasa dan membikin pasangan ke puncak asmara.

Hal tersebut pasti saja sehingga persoalan serius, sebab bagi pria normal yang memakai obat-obatan tersebut sama saja mengkonsumsi obat tidur. Dimana dengan pemakaian yang intens dan dalam jangka waktu tertentu efek sampingnya malah bakal membikin orang tersebut kesulitan untuk tidur secara alami.

Hal itupun yang bakal terjadi jika memakai obat-obatan vitalitas, bukan menjadi pria yang perkasa di ranjang tetapi bakal menjadi pria yang ereksinya telah tidak canggih lagi nantinya.

Cara Alamiah dan Natural Pria Perkasa

Menurut menshealth, Selasa (7/8/12), perbuat cara-cara alamiah dan natural berikut untuk menjadi pria yang lebih perkasa:

#1. Makan ikan lebih banyak
Niasin alias vitamin B3 bisa memperlancara ajaran darah dan menguatkan ereksi penis. Vitamin tersebut banyak terkandung di dalam ikan semacam ikan tuna, cod, salmon dan sarden.

Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian terakhir yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine. Sebab itu mengkonsumsi ikan sangat penting buat mereka yang ingin menjadi pria lebih perkasa di ranjang cinta.

#2. Konsumsi Obat Pembesar Penis Vimax Izon
Ginseng yang berasal dari varietas di Asia dan Amerika telah terbukti sanggup meningkatkan pelebaran arteri dan meningkatkan ajaran darah ke penis pada saat ereksi.

Hal tersebut ditunjukkan dalam suatu  penelitian di Southern Illinois University. Mulailah untuk mengkonsumsi 900 mg satu hingga tiga kali sehari.

#3. STOP merokok
Seperti diketahui bersama merokok terbukti tidak mengangkat manfaat sama sekali, bahkan membahayakan kesehatan. Dalam faktor ereksi ini, dengan kebiasaan merokok bisa mengancam kerusakan permbuluh arteri yang berujung pada resiko disfungsi ereksi yang berat.

Menurut penelitian yang dilakukan Lahey Clinic for Sexual Function in Massachusetts ditemukan hasil peningkatan ereksi hingga 40% bagi pria yang berhenti merokok dalam jangka waktu seminggu.

Hentikan rokok sekarang dan jadilah pria lebih perkasa di ranjang untuk memperoleh ereksi yang sempurna.

Rahasia Obat Vimax Izon Pembesar Penis
Selain ketiga faktor tersbut diatas, untuk menjadi pria perkasa ada rahasia paling besar yang mungkin Andapun belum sempat mendengar sebelumnya. Rahasia alamiah pria perkasa tersebut adalah melatih penis menjadi lebih besar, panjang, dan kuat sehingga sanggup memuaskan pasangannya dan memperoleh sensasi orgasme yang luar biasa.

Anda bisa menyimak lebih lanjut di postingan cara memperbesar penis secara alamiah dan bagaimana membikin penis kuat perkasa, dengan begitu keinginan Anda untuk menjadi pria perkasa yang sanggup membikin pasangan orgasme canggih bakal bisa terwujudkan.

Bila Anda menyukai postingan cara alamiah menjadi pria perkasa ini, silahkan bagikan Rekomendasinya dan komentar di bawah ini :)?

Senin, 30 Maret 2015

Cerita Sex Dengan Mbak Erni Wanita Desa yang montok

Cerita Sex Dengan Mbak Erni Wanita Desa yang montok

Cerita ini kumulai saat ban mobil yang kukendarai bocor tertusuk paku dalam perjalanan ke luar kota.
Huuhh…. Sial ternyata kunci roda yang ada tak pas dengan baut roda mobilku…. Sehingga dengan kesal ku susuri jalan ditengah terik matahari menuju suatu  rumah yang terparkir suatu  angkot tua, semoga saja pemiliknya punya kunci roda yang pas dengan baut ban mobilku.
“Assalamu alaikum…..!” sapaku dengan wajah sedikit memelas didepan pintu rumah yang sedikit reot, maklum di kampung yang jauh dari kota.
“Wa alaikum salam…” terdengar jawaban seorang wanita namun belum nampak batang hidung yang punya suara. Mendengar suara itu kuberanikan diri sedikit melongo kedalam rumah itu……..Opss…..ternyata ada seorang wanita kira-kira berusia 25 tahunan sedang menyusui anaknya……
Oh.. my God cukup juga parasnya untuk wanita ukuran di kampung ini, dan tentunya yang membuatku terkesima buah dadanya yang indah tampak terbuka sedang diisep sama anaknya yang masih berusia balita.
“ Maaf mbak …… apa saya dapat pinjam kunci roda mobilnya ?” tanyaku sambil tak putus mataku memandang suatu  keindahan , seraya mengkhayal jika aku yang menikmati buah dada yang indah itu………….. “ Oh….sebentar pak saya Tanya dulu suami saya…! “ Jawab wanita tadi sambil terburu-buru menutup dada indahnya yang mungkin Ia sadar jika betapa aku menikmatinya.

Singkat cerita kunci roda tersebut berhasil saya pinjam dan bergegas kugunakan untuk mengganti ban yang bocor dengan ban cadangan. Tentunya dengan alasan mengucapkan terima kasih , kita pernah berbincang dan berkenalan.

“ Maaf pak …. Rencananya mau kemana…? Tanya wanita itu . “ Oh saya mau ke kota X dalam rangka tugas kantor “ Jawabku sekenanya. “ Sebenarnya saya juga mau ke kota itu untuk menemui saudara yang katanya berdomisili disana , tapi alamatnya belum begitu jelas dan kebetulan suami saya tak dapat mengantar karena kendaraan Angkotnya masih rusak “ Kata wanita itu diamini oleh suaminya yang baru bangun tidur dan ikut menemani kita berbincang-bincang.

Pucuk dicinta ulam tiba begitulah kata pepatah, dengan tanpa melewatkan kesempatan untuk dapat berlama-lama dengan wanita itu, apalagi dia akan berangkat sendiri tanpa suami dan anaknya, dengan alasan suaminya masih harus menyelesaikan pemulihan angkot yang masih rusak itu. Apalagi aku memang hanya sendiri di kendaraaanku.

Sepanjang perjalanan kita ngobrol panjang lebar tentang segalanya dan akhirnya dapat kuketahui nama wanita itu adalah Erni. Sampai kita tiba di kota tujuan.

“Mbak Erni rencana mau nginap dimana ? kan hari sudah mulai gelap tentunya sulit mencari alamat saudaranya waktu begini “ tanyaku. “ Entahlah mas soalnya saya tak punya cukup uang jika harus menginap di penginapan” Jawab Erni dengan sedikit kebingungan. “Bagaimana jika kita menginap dulu di penginapan tempat saya menginap, esok hari baru kita sama-sama mencari alamat saudara mbak itu !” Tawarku kepada Erni. “Tapi mas apa tak merepotkan ?” tanyanya dengan nada ragu tapi mau. Kujawab “ Ya …enggak lah ….kan mbak Erni sudah menolong saya sehingga tak ada salahnyakan jika saya membalas pertolongan itu ….” Jawabku sembari dalam hati bersorak YESS……….. . “ Ya deh mas …. Saya ikut mas aja !” Jawabnya pasrah.

Setiba di penginapan ternyata kamar yang tersedia tersisa 1 yang kosong yang lainnya sudah di booking calon tamu lainnya dan tak dapat di ganggu gugat lagi soalnya sudah di bayar Full. “ Aduh mbak kamarnya Cuma ada satu yang kosong, gimana nih……” Tanpa menunggu jawaban langsung kujawab sendiri dengan sedikit memaksa “ Udahlah mbak…. Mbak tidur dikamar saya saja biar saya yang tidur di sofa “. “ Tapi mas ……” jawabnya ragu, namun akhirnya seperti kebo di cucuk hidungnya ikut dibelakangku menuju kamar sambil mengangkat tas Erni dan tasku sendiri.

Setelah masuk dalam kamar dan menyelesaikan segala urusan dengan room service yang mengantar ke ruangan yang ku pesan. Kita terdiam sejenak, dan Erni terduduk di sofa sambil memandangku bingung. “ Silahkan mandi dulu mbak…… itu handuk bersih dan ini sabun cair dan shampoo saya yang dapat mbak pake , saya rapikan dulu perlengkapan saya, nanti beres mandi kita cari makan malam di luar saja , karena penginapan ini tak menyiapkan makan malam yang sesuai dengan selera saya “. Sambil menyodorkan perlengkapan mandiku ke Erni untuk digunakan dan Erni nurut aja apa yang ku sampaikan.

Setelah semuanya beres kita keluar penginapan mencari rumah makan yang biasa aku datangi jika berkunjung ke kota ini. Sambil makan kita kebanyakan bercerita , khususnya Erni dapat kuperoleh cerita jika ia baru 3 tahun menikah dengan suaminya yang masih kerabat dekat dan alternatif orang tuanya, namun dalam perjalanan pernikahannya suaminya tak lebih memberi perhatian selayaknya suami kepada istrinya tak hanya hanya untuk melampiaskan nafsu sexnya, untuk urusan lainnya suaminya tak lebih mau tahu termasuk urusan mengunjungi saudaranya di kota ini.
Tibalah waktu kita kembali ke penginapan untuk istirahat, sesuai janjiku jika aku yang tidur di sofa sedangkan Erni di tempat Tidur. Maklum deh Erni masih menganut kebiasaan di kampung jika tidur harus menggunakan sarung dengan tak menggunakan sehelai benangpun di badannya tak hanya balutan sarung yang sudah agak kumal. Nampak jelas bentuk tubuh khususnya payudara yang kutaksir berukuran 36 B , menyembul di balik sarung yang dikenakannya yang terlihat dikeremangan lampu tidur yang menyala dengan redup. Hal ini membuatku semakin gelisah menahan gejolak adikku yang dari tadi ingin berontak semakin tanpa aturan yang jelas.
Rupanya Erni melihat kegelisahanku dengan menyangka aku tersiksa jika harus tidur di sofa, padahal bukan itu penyebabnya, sehingga akhirnya dia pun bersuara. “ Mas …. Nggak dapat tidur ya… sudah mas disini saja… toh tempat tidur ini masih cukup luas “. Tentunya ini kesempatan emas 24 karat yang tak boleh aku sia-siakan, dengan sedikit jual mahal aku menjawab “ ….Ya deh…. Memang agak tak lebih nyaman nih tidur di sofa, tapi mbak tak keberatankan…”. “ Nggak koq mas silahkan aja “ jawabnya.
Bergegaslah dengan langkah seorang kesatria Majapahit menuju ke empat tidur samping Erni. Ternyata Erni pernah melihat ada yang menyembul dengan keras di balik celana pendek yang memang tak mengenakan celana dalam kebiasaanku jika tidur. “ Ihh…. Mas ….itu apa yang berdiri dibalik celana mas….” Lugu erni bertanya. “ Ahh… mbak koq liat aja, ini kan gara-gara mbak juga “. Jawabku sekenanya sambil dalam hati berbicara TUNGGU TANGGAL MAINNYA.
Sejenak kita berdua terdiam dengan pikiran masing-masing. Selanjutnya aku mencoba menyentuh tangan erni, dan tak ada penolakan dari erni yang membuatku semakin berani menarik tangannya dan memeluk dia dengan sikap yang sangat mesra. “ Mas jangan panggil aku mbak ya… sebut aja Namaku “ Tiba-tiba Erni bersuara,” Oh ya…. “ jawabku. “ Maaf mas erni koq merasa nyaman dekat mas, tak seperti suami erni yang tak pernah memberikan kemesraan seperti yang mas share ini “ kata erni lagi, “ Akupun begitu er…. , awal melihatmu ingin rasanya aku memelukmu !” jawabku sedikit merayu.sambil memeluk dari belakang dan mencium bekang telinga selanjutnya leher bagian belakangnya, yang tanpa penolakan bahkan terlihat Erni begitu menikmati. Kuberanikan untuk mengelus kening selanjutnya turun ke dada dan semakin meremasinya dengan halus khususnya tak lebih lebih puting yang nampak kian mengeras. Tak ada jawaban atau kata yang keluar dari mulut Erni tak hanya desahan nafas yang semakin memburu tak teratur, menandakan erni sudah mulai horny selanjutnya tanganku turun meraba perut dan semakin menemukan rimbunan bulu-bulu tebal diantara dua lembah yang terasa mulai lembab selanjutnya mencair oleh lelehan air kenikmatan wanita yang sedang mendaki kearah puncak kenikmatan.
Tidak dinyana Erni membalikkan badannya melepaskan sarung kumal yang melapisi tubuh mulusnya yang baru kali inilah terlihat dengan jelas, dibalik keluguan wanita desa ternyata menyimpan suatu kekuatan yang mampur memecahkan naluri lelaki yang menggeliat dengan panasnya.
“ Mas…… !!!!!!”. sambil meremas adikku yang sudah ditelanjangi oleh tangan halus Erni seperti meremas jagung yang akan dirontokkan pipilnya.” Aku tak pernah merasakan kenikmatan seperti ini dari suamiku………akhhh….akkhhhh !!!!!!”. Erni semakin tak dapat menguasai dirinya, apalagi saat kulumat habis puting teteknya yang kian mengeras. Berangsur turun ke puser perut dan kelubang kenikmatan. “ Okhh..okkhhhh……..mas …….nikmat……..akhhkk…….” Tak kuasa erni menahan erangannya.
Kita berdua sudah semakin larut dalam hasrat birahi yang bergelora dengan tubuh yang tak satu helai benangpun yang masih melekat , diterangi cahaya lampu tidur yang temaram. “ Erni aku sudah nggak tahan lagi …..pengen ngentot memek anda !” Keluar kata dari mulutku yang semakin tak lebih ajar, karena adikku sudah berada dalam kuluman mulut erni yang dengan ganasnya melalap habis sampai ke pangkal batang bahkan biji pelirku pun tak luput dari sedotannya.
Erni rupanya mengerti dengan kata-kataku , sehingga dengan selangkangan terbuka dengan posisi WOT menelungkup memasukkan batang kontolku ke lubang memeknya dengan tutorial perlahan tapi pasti , naik turun tak beraturan ,” Oh…. Mas nikkkkkmattttt……….!!!!!” Erni mulai mengoceh kesetanan , “ Mas kontolmu enak sekali………..” tambah erni. Akupun semakin keras memompa dan membanting tubuhnya ke kasur untuk merubah posisi dengan Doggy style, menggenjotnya dengan masih meremas tetek erni, “ Mas aku cape…………” keluh erni, Kubalikkan tubuhnya dengan posisi MOT sebagai posisi pamungkas karena kontolku sudah mulai terasa berdenyut keras, “ Ohkkhhh…..mas aku nggak tahan …….akh..!!!!” Erni mengoceh dengan lemahnya, sementara remasan memeknya semakin memelintir batang kontolku , “ Oh….Erni tahan sebentar lagi aku juga mau keluar….” Pintaku kepada erni seembari meninggikan RPM genjotan kontolku di memek erni. Dan tiba-tiba “AKHH……………!!!!” Teriak Erni bersamaan dengan itu akupun tak dapat lagi menahan semburan sperma kontolku kedalam memek erni sambil masih mengisap putting tetek erni yang kian mengeras.

Kita berdua tak dapat menggambarkan apa yang terjadi tadi yang jelas aku dan erni sudah tak bertenaga lagi untuk bergerak dan masih membiarkan tubuhku tengkurap di atas tubuh erni dengan kontol yang masih tertancap di memek erni.
Semenit kemudian aku berangsur tertidur di samping tubuh bugil erni si wanita desa dengan ceceran air memek erni dan sperma kontolku yang membasahi tubuh dan sperei tempat tidur yang bercampur keringat kita berdua.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 aku terbangun , dan mendapatkan erni masih tertidur dengan ceceran sperma dan air memek yang mulai mongering di badan kita berdua dan sprei tempat tidur , kubangunkan erni dan kuajak untuk bersih-bersih di kamar mandi.
“ Mas …… maafin erni ya, koq erni malah mengajak mas bercinta..” Kata erni menyesal namun masih menyimpan hasrat terpendam. “ Nggak apa koq er… aku juga tersanjung dengan apa yang sudah kita perbuat, habis anda seksi sih bikin aku nafsu aja” kata ku nakal menggoda, sembari menyandarkan badannya ke dadaku. “ Akh….mas ini bikin malu aja..” sambil mencubit perutku. “ Jujur deh mas erni baru kali ini merasakan bercinta yang betul-betul membuat erni serasa terbang kea wan” sambung erni. Sambil mengelus kontolku yang mengecil tapi mulai nampak tanda-tanda akan bangun lagi.
“Mas… boleh nggak erni minta lagi..” Pinta Erni. WHY NOT pikirku, tapi gengsi dong kalo aku langsung mengiyakan. “ Gimana ya….. tapi aku sudah cape nih “ jawabku untuk memancing pelayanan yang lebih ekstra tentunya, “ Trus gimana dong mas ? “ Erni benar-benar sudah memelas , “ Erni mesti tau dong apa yang ku mau ! “ Jawabku sekali lagi. Tanpa ba bi bu erni langsung mengulum kontolku dengan ganasnya dan tanganku tak melewatkan untuk mengobok-obok tetek erni yang mulai mengeras juga, rupanya tak puas kontolku diisep, ia menggigit halus putting susuku yang membuat diriku terawang-awang ke langit tujuh.
“ Erni kita pindah ke sofa aja yuk !” sembari bangkit dari tempat tidur dan menuju sofa, gentian erni yang ku mandiin kucing dari ujung kaki sampai kuduknya. “ Ahkk…. Mas semakin mas …..” erang erni. Erni benar-benar sudah tak dapat menguasai dia sampai teriak-teriak sehingga harus dengan cepat kubekap mulutnya agar tak mengganggu tamu lainnya di penginapan itu.
“ masssss.. cepat entot aku mas sudah tak tahan nih…..” suara lirih erni memintaku agar menusuk kontol ke memeknya. Blassss………… “ Akhhh………..” lirih erni sekali lagi.
Entah apa karena suasana malam itu yang semakin sepi atau memang setan sudah begitu dominant menguasai otak kita berdua, langsung aja dengan posisi erni yang nungging di sofa ku benamkan batang kontol ini yang juga sudah ingin mengakhiri permainan dashyat ini, kugenjot berulang-ulang kedalam lubang memek erni dan terakhir tersemburlah cairan maniku yang sudah encer akibat terlalu kebanyakan yang dikeluarkan untuk memuaskan hasrat kita berdua “ Ohhhh… Erni…….” Bersamaan dengan orgasmenya erni, yang membuat lututku semakin tak kuasa menahan lemasnya dan mengantarkan kita untuk terduduk lemas sejenak di sofa.
Akhirnya kita bersih-bersih dikamar mandi dan tertidur sampai pagi harinya. “ Mas kapan kita dapat ketemu lagi ?” Tanya erni. “ Aku akan menghubungimu lagi jika ada waktu Er..” jawabku.

Singkat cerita keesokan harinya aku mengantarkan erni menemui alamat saudaranya dan sebelumnya mampir di took hp untuk membelikan erni HP yang dapat aku gunakan bila ingin menemui erni. Kisah ini berlanjut ditempat yang lain dan kesempatan yang lain , tentunya tanpa sepengetahuan suami erni.

Cerita Sex: Ngewe janda cina

Cerita Sex: Ngewe janda cina
Ditinggal mati oleh isteri di usia 39 tahun bukan faktor yang menyenangkan. Namaku Ardy, berasal dari kawasan Timur Indonesia, tinggal di Surabaya. Isteriku Lia yang terpaut lima tahun dariku telah dipanggil menghadap hadirat penciptanya. Tinggal aku seorang diri dengan dua orang anak yang tetap memperlukan perhatian penuh.
cerita-sex-ngewe-janda-cinaCerita Sex: Ngewe janda cina – Ist
Aku wajib menjadi ayah sekaligus bunda untuk mereka. Bukan faktor yang mudah. Sejumlah kawan menyarankan untuk menikah lagi supaya anak-anak mendapatkan bunda baru. Anjuran yang bagus, tetapi saya tidak ingin anak-anak mendapat seorang bunda tiri yang tidak menyayangi mereka. Sebab itu aku sangat hati-hati.
Kehadiran anak2 jelas adalah hiburan yang tidak tergantikan. Anita saat ini berumur 10 tahun serta Marko adiknya berumur enam tahun. Anak-anak yang lucu serta pintar ini sangat mengisi kekosonganku. Tetapi kalau anak-anak lagi berkumpul bersama teman-temannya, kesepian itu senantiasa menggoda. Ketika hari telah larut malam serta anak-anak telah tidur, kesepian itu terus menyiksa. Sejalan dengan itu, nafsu birahiku yang termasuk besar itu meledak-ledak perlu penyaluran. Beberapa kawan mengajakku mencari wanita panggilan tetapi aku tidak berani. Resiko terkena penyakit mengendurkan niatku. Terpaksa aku bermasturbasi. Sesaat aku merasa lega, tetapi sesudah itu keinginan untuk menggeluti tubuh seorang wanita rutin timbul di kepalaku.
Tidak terasa 3 bulan telah berlalu. Perlahan-lahan aku mulai menaruh perhatian ke wanita-wanita lain. Beberapa kawan kerja di kantor yang tetap lajang kelihatannya membuka peluang. Tetapi aku lebih suka mempunyai mereka sebagai teman. Sebab itu tidak ada niat untuk membina hubungan serius. Di saat keinginan untuk menikmati tubuh seorang wanita terus meningkat, peluang itu datang dengan sendirinya.
Senja itu di hari Jumat, aku pulang kerja. Sepeda motorku santai saja kularikan di sepanjang Jalan Darmo. Maklum telah mulai gelap serta aku tidak terburu-buru. Di depan hotel Mirama kulihat seorang wanita kebingungan di samping mobilnya, Suzuki Baleno. Rupanya mogok. Kendaraan-kendaraan lain melaju lewat, tidak ada orang yang peduli. Ia menoleh ke kiri serta ke kanan, tidak tahu apa yang hendak dilakukan. Rupanya mencari bantuan. Aku mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanyaku sopan.
Ia terkejut serta menatapku agak curiga. Saya memahaminya. Belakangan ini tidak sedikit kejahatan berkedok tawaran bantuan semacam itu.
“Tak usah takut, Mbak”, kataku.”Namaku Ardy. Boleh saya lihat mesinnya?”
Walaupun agak segan ia mengucapkan terima kasih serta membuka kap mesinnya. Nyatanya hanya problema penyumbatan slang bensin. Aku membetulkannya serta mesin dihidupkan lagi. Ia ingin membayar tetapi aku menolak. Kejadian itu berlalu begitu saja. Tidak kuduga hari berikutnya aku berjumpa lagi dengannya di Tunjungan Plaza. Aku sedang menemani anak-anak berjalan-jalan ketika ia menyapaku. Kuperkenalkan dirinya pada anak-anak. Ia tersenyum manis terhadap keduanya.
“Sekali lagi terima kasih untuk bantuan kemarin sore”, katanya,”Namaku Mei. Maaf, kemarin tidak sempat berkenalan lebih lanjut.”
“Aku Ardy”, sahutku sopan.
Harus kuakui, mataku mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu jelas turunan Cina. Kontras dengan pakaian kantor kemarin, ia sungguh luar biasa dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu dengan kaos putih berlengan singkat serta leher rendah. Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berkapasitas kira-kira 38 menonjol dengan jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar.

“Kok bengong”, katanya tersenyum-senyum,”Ayo minum di sana”, ajaknya.
Seperti kerbau dicocok hidungnya aku menurut saja. Ia menggandeng kedua anakku mendahului. Keduanya tampak ceria dibelikan es krim, sesuatu yang tidak sempat kulakukan. Kita duduk di meja terdekat sambil memperhatikan orang-orang yang lewat.
“Ibunya anak-anak nggak ikut?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku melirik ke kedua anakku, Anita serta Marko. Anita menunduk menghindari air mata.
“Ibu telah di surga, Tante”, kata Marko polos. Ia memandangku.
“Isteriku telah meninggal”, kataku. Hening sejenak.
“Maaf”, katanya,”Aku tidak bermaksud mencari tahu”, lanjutnya dengan rasa bersalah.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan serta sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berumur 32 tahun serta telah menjanda selagi satu setengah tahun tanpa anak. Selagi pembicaraan itu susah mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, tidak jarang ia menggerak-gerakkan badannya maka buah dadanya itu bisa lebih menonjol serta kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini.
“Nggak berpikir menikah lagi?” tanyaku.
“Rasanya nggak ada yang mau sama aku”, sahutnya.
“Ah, Masak!” sahutku,”Aku mau kok, kalau diberi kesempatan”, lanjutku sedikit nakal serta memberanikan diri.”Kamu tetap cantik serta menarik. Seksi lagi.”
“Ah, Ardy bisa aja”, katanya tersipu-sipu sambil menepuk tanganku. Tapi nampak benar ia bahagia dengan ucapanku.
Tidak terasa hampir dua jam kita duduk ngobrol. Akhirnya anak-anak mendesak minta pulang. Mei, wanita Cina itu, memberikan alamat rumah, nomor telepon serta HP-nya. Ketika bakal beranjak meninggalkannya ia berbisik,
“Saya menantikan Ardy di rumah.”
Hatiku bersorak-sorak. Lelaki mana yang mau menolak peluang berada bersama wanita semanis serta seseksi Mei. Aku mengangguk sambil mengedipkan mata. Ia membalasnya dengan kedipan mata juga. Ini peluang emas. Apalagi sore itu Anita serta Marko bakal dijemput kakek serta neneknya serta bermalam di sana.
“OK. Malam kelak aku main ke rumah”, bisikku juga, “Jam tujuh aku telah di sana.” Ia tersenyum-senyum manis.
Sore itu sesudah anak-anak dijemput kakek serta neneknya, aku membersihkan sepeda motorku lalu mandi. Sambil mandi imajinasi seksualku mulai muncul. Bagaimana tampang Mei tanpa pakaian? Tentu indah sekali tubuhnya yang bugil. Serta tentu benar-benar nikmat menggeluti serta menyetubuhi tubuh semontok serta selembut itu. Apalagi aku sebenarnya telah lama ingin menikmati tubuh seorang wanita Cina. Tapi apakah ia mau menerimaku? Apalagi aku bukan orang Cina. Dari kawasan Timur Indonesia lagi. Kulitku agak gelap dengan rambut yang ikal. Tapi.. Peduli amat. Toh ia yang mengundangku. Andaikata aku diberi kesempatan, tidak bakal kusia-siakan. Kalau toh ia hanya sekedar mengungkapkan terima kasih atas pertolongaku kemarin, yah tidak apalah. Aku tersenyum sendiri.
Jam tujuh lewat lima menit aku sukses menemukan rumahnya di kawasan Margorejo itu. Rumah yang indah serta mewah untuk ukuranku, berlantai dua dengan lampu depan yang buram. Kupencet bel dua kali. Selang satu menit seorang wanita separuh baya membukakan pintu pagar. Rupanya pesuruh rumah tangga.
“Pak Ardy?” ia bertanya, “Silahkan, Pak. Bu Mei menantikan di dalam”, lanjutnya lagi.
Aku mengikuti langkahnya serta dipersilahkan duduk di ruang tamu serta iapun menghilang ke dalam. Selang semenit, Mei keluar. Ia mengenakan baju serta celana santai di bawah lutut. Aku berdiri menyambutnya.
“Selamat datang ke rumahku”, katanya.
Ia mengembangkan tangannya serta aku dirangkulnya. Suatu  ciuman mendarat di pipiku. Ini ciuman pertama seorang wanita ke pipiku sejak kematian isteriku. Aku berdebaran. Ia menggandengku ke ruang tengah serta duduk di sofa yang empuk. Mulutku seakan terkunci. Beberapa hari bercakap-cakap, si pesuruh rumah tangga datang menghantar minuman.
“Silahkan diminum, Pak”, katanya sopan, “Aku juga sekalian pamit, Bu”, katanya terhadap Mei.
“Makan telah siap, Bu. Saya datang lagi besok jam sepuluh.”
“Biar masuk sore aja, Bu”, kata Mei, “Aku di rumah aja besok. Datang saja jam tiga-an.”
Pembantu itu mengangguk sopan serta berlalu.
“Ayo minum. Santai aja, aku mandi dulu”, katanya sambil menepuk pahaku.
Tersenyum-senyum ia berlalu ke kamar mandi. Di saat itu kuperhatikan. Pakaian santai yang dikenakannya lumayan memberikan angan-angan bentuk tubuhnya. Buah dadanya yang montok itu menonjol ke depan laksana gunung. Pantatnya yang besar serta bulat berayun-ayun lembut mengikuti gerak jalannya. Pahanya padat serta mulus ditopang oleh betis yang indah.
“Santai saja, anggap di rumah sendiri”, lanjutnya sebelum menghilang ke balik pintu.
Dua puluh menit menantikan itu rasanya semacam seabad. Ketika akhirnya ia muncul, Mei membuatku terkesima. Rambutnya yang panjang hingga di punggungnya dibiarkan tergerai. Wajahnya segar serta manis. Ia mengenakan baju tidur longgar berwarna cream dipadu celana berenda berwarna serupa.
Tetapi yang membikin mataku membelalak ialah bahan pakaian itu tipis, maka pakaian dalamnya jelas kelihatan. BH merah kecil yang dikenakannya menutupi hanya sepertiga buah dadanya memberikan pemandangan yang indah. Celana dalam merah jelas memberikan bentuk pantatnya yang besar bergelantungan. Pemandangan yang menggairahkan ini spontan mengungkit nafsu birahiku. Kemaluanku mulai bergerak-gerak serta berdenyut-denyut.
“Aku tahu, Ardy suka”, katanya sambil duduk di sampingku, “Siang tadi di TP (Tunjungan Plaza) aku lihat mata Ardy tidak sempat lepas dari buah dadaku. Tidak usah khawatir, malam ini sepenuhnya milik kita.”
Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kita telah lekat berpagutan. Aku merengkuh tubuh montok itu ketat ke dalam pelukanku. Tangaku mulai bergerilya di balik baju tidurnya mencari-cari buah dadanya yang montok itu. Ia menggeliat-geliat supaya tanganku lebih bebas bergerak sambil mulutnya terus menyambut permainan bibir serta lidahku. Lidahku menerobos mulutnya serta bergulat dengan lidahnya.
Tangannya pun aktif menyerobot T-shirt yang kukenakan serta meraba-raba perut serta punggungku. Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yang mulus. Kunikmati kehalusan kulitnya itu. Terus mendekati pangkal pahanya, kurasa ia membuka kakinya lebih lebar, biar tanganku lebih bebas bergerak. Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan kemaluannya yang tetap tertutup celana dalam tipis. Jariku menelikung ke balik celana dalam itu serta menyentuh bibir kemaluannya. Ia mengaduh singkat tetapi segera bungkam oleh permainan lidahku. Kurasakan badannya mulai menggeletar menahan nafsu birahi yang terus meningkat.
Tangannyapun menerobos celana dalamku serta tangan lembut itu menggenggam batang kemaluan yang kubanggakan itu. Kemaluanku termasuk besar serta panjang. Ukuran tegang penuh kira-kira 15 cm dengan diameter kurang lebih 4 cm. Senjata kebanggaanku inilah yang sempat menjadi kesukaan serta kebanggaan isteriku. Aku yakin senjataku ini bakal menjadi kesukaan Mei. Ia tentu bakal ketagihan.
“Au.. Besarnya”, kata Mei sambil mengelus lembut kemaluanku.
Elusan lembut jari-jarinya itu membikin kemaluanku terus mengembang serta mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu serta leherku serta sejalan dengan itu melepaskan bajuku. Segera seusai lepas bajuku bibir mungilnya itu menyentuh puting susuku. Lidahnya bergerak lincah menjilatinya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tangannya kembali menerobos celanaku serta menggenggam kemaluanku yang terus berdenyut-denyut. Aku pun bergerak melepaskan pakaian tidurnya. Rasanya semacam bermimpi, seorang wanita Cina yang cantik serta seksi duduk di pahaku hanya dengan celana dalam serta BH.
“Ayo ke kamar”, bisiknya, “Kita tuntaskan di sana.”
Aku bangkit berdiri. Ia menjulurkan tangannya minta digendong. Tubuh bahenol nan seksi itu kurengkuh ke dalam pelukanku. Kuangkat tubuh itu serta ia bergayut di leherku. Lidahnya terus menerabas batang leherku membikin nafasku terengah-engah nikmat. Buah dadanya yang sungguh montok serta lembut menempel lekat di dadaku. Masuk ke kamar tidurnya, kurebahkan tubuh itu ke ranjang yang lebar serta empuk. Aku menariknya berdiri serta mulai melepaskan BH serta celana dalamnya.
Ia membiarkan aku melakukan semua itu sambil mendesah-desah menahan nafsunya yang tentu terus menggila. Seusai tidak ada selembar benangpun yang menempel di tubuhnya, aku mundur serta memandangi tubuh telanjang bulat yang mengagumkan itu. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat telur dengan mata agak sipit semacam umumnya orang Cina. Rambutnya hitam tergerai hingga di punggungnya. Buah dadanya sungguh besar tetapi padat serta menonjol ke depan dengan puting yang kemerah-merahan. Perutnya rata dengan lekukan pusar yang menawan. Pahanya mulus dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang besar bulat padat. Di sela paha itu kulihat gundukan hitam lebat bulu kemaluannya. Sungguh pemandangan yang indah serta menggairahkan birahi.
“Ngapain hanya lihat tok,” protesnya.
“Aku kagum bakal keindahan tubuhmu”, sahutku.
“Semuanya ini milikmu”, katanya sambil merentangkan tangan serta mendekatiku.
Tubuh bugil polos itu saat ini melekat erat ditubuhku. Didorongnya aku ke atas ranjang empuk itu. Mulutnya segera menjelajahi seluruh dada serta perutku terus menurun ke bawah mendekati pusar serta pangkal pahaku. Tangannya lincah melepaskan celanaku. Celana dalamku segera dipelorotnya. Kemaluanku yang telah tegang itu mencuat keluar serta berdiri tegak. Tiba-tiba mulutnya meringkus batang kemaluanku itu. Kurasakan sensai yang luar biasa ketika lidahnya lincah memutar-mutar kemaluanku dalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi gila itu.
Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri serta merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya serta mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi tentu aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang terus menggila. Aku menjilati perutnya yang rata serta menjulurkan lidahku ke pusarnya.
“Auu..” erangnya, “Oh.. Oh.. Oh..” jeritnya terus keras.
Mulutku terus mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya yang mulus padat itu membuka, menampakkan celah surgawinya yang telah merekah serta basah. Rambut hitam lebat melingkupi celah yang kemerah-merahan itu. Kudekatkan mulutku ke celah itu serta perlahan lidahku menyuruk ke dalam celah yang telah basah membanjir itu. Ia menjerit serta spontan duduk sambil menekan kepalaku maka lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya menggeliat-geliat semacam cacing kepanasan. Pantatnya menggeletar canggih sedang pahanya terus lebar membuka.
“Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritnya keras.
Aku tahu tidak ada sesuatu pun yang bakalan menghalangiku menikmati serta menyetubuhi si canting bahenon nan seksi ini. Tapi aku tidak ingin menikmatinya sebagai orang rakus. Sedikit demi sedikit tetapi sangat nikmat. Aku terus mempermainkan klitorisnya dengan lidahku. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke atas serta memegang kepalaku erat-erat. Ia melolong keras.
Pada saat itu kurasakan banjir cairan vaginanya. Ia telah mencapai orgasme yang pertama. Aku berhenti sejenak membiarkan ia menikmatinya. Sesudah itu mulailah aku menjelajahi kembali tahap tersensitif dari tubuhnya itu. Kembali erangan suaranya terdengar tanda birahinya mulai menaik lagi. Tangannya terjulur mencari-cari batang kejantananku. Kemaluanku telah tegak sekeras beton. Ia meremasnya. Aku menjerit kecil, sebab nafsuku pun telah diubun-ubun perlu penyelesaian.
Kudorong tubuh bahenon nan seksi itu rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku bergerak ke atasnya. Ia membuka pahanya lebar-lebar siap menerima penetrasi kemaluanku. Kepalanya bergerak-gerak di atas rambutnya yang terserak. Mulutnya terus menggumam tidak jelas. Matanya terpejam. Kuturunkan pantatku. Batang kemaluanku berkilat-kilat serta memerah kepalanya siap menjalankan tugasnya. Kuusap-usapkan kemaluanku di bibir kemaluannya. Ia terus menggelinjang semacam kepinding.
“Cepat.. Cepat.. Aku telah nggak tahan!” jeritnya.
Kuturunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS!
Kemaluanku menerobos liang senggamanya diiringi jeritannya membelah malam. Tetangga sebelah mungkin bisa mendengar lolongannya itu. Aku berhenti sebentar membiarkan dirinya menikmatinya. Lalu kutekan lagi pantatku maka kemaluanku yang panjang serta besar itu menerobos ke dalam serta terbenam sepenuhnya dalam liang surgawi miliknya. Ia menghentak-hentakkan pantatnya ke atas supaya lebih dalam menerima diriku. Sejenak aku diam menikmati sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan aku mulai menggerakkan kemaluanku. Balasannya juga luar biasa.
Dinding-dinding celah kemaluannya berusaha menggenggam batang kemaluanku. Rasanya seberti digigit-gigit. Pantatnya yang bulat besar itu diputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat. Buah dadanya tergoncang-goncang seirama dengan genjotanku di kemaluannya. Matanya terpejam serta bibirnya terbuka, berdesis-desis mulutnya menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan kemudian jeritan panjang terlontar membelah udara malam. Kubungkam jeritannya dengan mulutku. Lidahku berjumpa lidahnya. Sementara di bawah sana kemaluanku bebas bertarung dengan kemaluannya, di sini lidahku pun bebas bertarung dengan lidahnya.
“OH..”, erangnya, “Lebih keras sayang, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!”
Tangannya melingkar merangkulku ketat. Kuku-kukunya membenam di punggungku. Pahanya terus lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir kemaluannya seirama dengan gerakan pantatku. Di saat itulah kurasakan gejala ledakan magma di batang kemaluanku. Sebentar lagu aku bakal orgasme.
“Aku mau keluar, Mei”, bisikku di sela-sela nafasku memburu.
“Aku juga”, sahutnya, “Di dalam sayang. Keluarkan di dalam. Aku ingin kalian di dalam.”
Kupercepat gerakan pantatku. Keringatku mengalir serta menyatu dengan keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua buah dadanya. Diiringi geraman keras kuhentakkan pantatku serta kemaluanku membenam sedalam-dalamnya. Spermaku memancar deras. Ia pun melolong panjang serta menghentakkan pantatnya ke atas menerima diriku sedalam-dalamnya. Kedua pahanya naik serta membelit pantatku. Ia pun mencapai puncaknya. Kemaluanku berdenyut-denyut memuntahkan spermaku ke dalam rahimnya. Inilah orgasmeku yang pertama di dalam kemaluan seorang wanita sejak kematian isteriku. Serta nyatanya wanita itu adalah Mei yang cantik bahenol serta seksi.
Sekitar sepuluh menit kita diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu. Lalu perlahan-lahan aku membawa tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang berbinar sebab birahinya telah terpuaskan. Ia tersenyum serta membelai wajahku.
“Ardy, kalian canggih sekali, sayang”, katanya, “Sudah lebih dari setahun aku tidak merasakan lagi kejantanan lelaki semacam ini.”
“Mei juga luar biasa”, sahutku, “Aku sungguh puas serta bangga bisa menikmati tubuhmu yang menawan ini. Mei tidak rugi bersetubuh denganku?”
“Tidak”, katanya, “Aku malah berbangga bisa menjadi wanita pertama sesudah kematian isterimu. Mau kan kalian memuaskan aku lagi nanti?”
“Tentu saja mau”, kataku, “Bodoh kalau nolak rejeki ini.” Ia tertawa.
“Kalau kalian lagi pingin, telepon saja aku,” lanjutnya, “Tapi kalau aku yang pingin, boleh kan aku nelpon?”
“Tentu.. Tentu..”, balasku cepat.
“Mulai kini kalian bisa menyetubuhi aku kapan saja. Tinggal kabarkan”, katanya.
Hatiku bersorak ria. Aku mencabut kemaluanku serta rebah di sampingnya. Tidak lebih lebih setengah jam kita berbaring berdampingan. Ia lalu mengajakku mandi. Lapar katanya serta pingin makan.
Malam itu hingga hari Minggu siang sungguh tidak terlupakan. Kita terus berpacu dalam birahi untuk memuaskan nafsu. Aku menyetubuhinya di sofa, di meja makan, di dapur, di kamar mandi dalam beberapa posisi. Di atas, di bawah, dari belakang. Singkat kata hari itu adalah hari penuh kenikmatan birahi. Bisa ditebak, pertemuan pertama itu berlanjut dengan aneka pertemuan lain. Kadang-kadang kita mencari hotel tetapi terbanyak di rumahnya. Sesekali ia mampir ke tempatku kalau anak-anak lagi mengunjungi kakek serta neneknya. Pertemuan-pertemuan kita rutin diisi dengan permainan birahi yang panas serta menggairahkan.
Satu malam di kamar tidurnya. Seusai beberapa kali orgasme iseng aku menggodanya.
“Mei”, kataku, “Betapa beruntungnya aku yang berkulit gelap ini bisa menikmati tubuhmu bahenol, seksi, putih serta mulus seorang wanita Cina.”
Nonton Film Bokep DISINI

Cerita Sex Perawan Pengabdian Demi Kursi Anak buah Dewan

Cerita Sex Perawan Pengabdian Demi Kursi Anak buah Dewan
”Din, seusai dua orang ibu-anak itu, aku mau istirahat.” ucap Mbah Sukmo dari dalam kamar prakteknya seusai memberikan susuk pada seorang pasien. < Samsudin bergegas keluar menghampiri dua pasien berikutnya dan mempersilahkan masuk ke ruang praktek Mbah Sukmo. Mbah Sukmo merupakan dukun kondang di daerah Jawa Timur. Keahliannya sangat tersohor, dari pelet hingga santet. Dari pengelaris hingga jabatan, dirinya tiada bandingannya. Ruang prakteknya yang dipenuhi oleh benda-benda pusaka, dan segenap wewangian kemenyan dan sesaji bagi iblis sesembahannya meningkatkan keangkeran dukun berumur 60 tahun dengan jambang lebat memenuhi wajahnya. Pasien berikutnya merupakan Nyonya Restuwati dan diantar oleh puterinya Lisa. Nyonya Restuwati merupakan wanita berumur 45 tahun yang sangat anggun. Dirinya sengaja datang ke Jawa Timur tidak hanya untuk menghadiri resepsi karibnya kemarin, juga mengunjungi Sang Dukun yang sakti mandraguna ini. Sengaja dirinya minta antar puterinya, sebab kesibukan suaminya sebagai pengusaha yang mengharuskan melakukan perjalanan bisnis ke Eropa. Jilbab kuning yang membungkus kepalanya meningkatkan kanggunan wanita berparas cantik ini. Di sampingnya merupakan puteri sulungnya Lisa yang tercatat sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Menurun dari ibunya, Lisa yang tetap 18 tahun ini juga mempunyai kecantikan yang tidak kalah dengan Sang Ibu. Gadis ini tampil santai dengan kaos merek Zara yang ketat lengkap dengan jeans hitam yang lekat dengan pahanya yang ramping. “Silahkan duduk Nyonya Restuwati dan Dik Lisa….” ucap Mbah Sukmo mempersilahkan kedua pasien terbarunya ini untuk duduk di karpet cocok di depan meja praktiknya. Mata sang dukun yang tadinya lelah sontak kembali berbinar. Amboi, cantik benar dua makhluk ini. Mulus, berdada montok, dan ah….ternyata tidak cuma mata sang dukun yang berbinar, penis Mbah Sukmo pun ikut memberikan sinyal soal santapan malam yang indah dari dua wanita cantik ini. Belum sempat dua pasiennya menyembunyikan kekagetan dengan performa Sang Dukun menebak nama-nama mereka. Mbah Sukmo kembali berujar, “Nyonya Restuwati tidak usah kuatir. Nyonya pasti bisa maka anak buah dewan tahun ini….Bukankah begitu yang nyonya inginkan?” “Be..benar…Mbah Dukun. Gimana Mbah bisa tahu maksud saya?” tanya Nyonya Restuwati makin kaget sekaligus makin percaya pada kesaktian sang dukun. Nyonya Restuwati terbukti salah satu caleg dari parpol pada pemilu tahun ini. Dan di saat peraturan bukan lagi pada nomor urut, melainkan suara terbanyak, membikin sang nyonya menjadi ketar-ketir. “Hahahaha…iblis, setan dan jin mengenal semua maksud di hati.” ucap Mbah Sukmo bangga. “Tapi, ini tidak gampang, Nyonya….” ujarnya lagi. “Maksud Mbah Dukun? Bagaimana caranya? Apa saja bakal saya perbuat untuk itu Mbah.” ucap Nyonya Restuwati tidak sabar. “Aura kharisma Nyonya tertutupi oleh tabir gelap maka tidak keluar. Wajib ada tidak sedikit pengorbanan, dan sesembahan supaya itu semua keluar. Tapi itu ada ritualnya, bisa diakali, Nyonya tidak butuh kuatir.” Hari ini Mbah Sukmo mulai ngawur. Semua kalimatnya sengaja didesain untuk memperoleh keuntungan dari dua wanita cantik ini. “Kamu dan puterimu wajib total mengikuti ritual yang bakal saya siapkan. Sanggup?” “Sanggup,Mbah” “Dik Lisa sanggup menolong Mama?” tanya dukun yang sedang horny ini pada puterinya. “Sanggup,Mbah.” Sahut Lisa demi sang mami tercintanya. Mulailah Mbah Sukmo komat-kamit sambil melempar kemenyan pada pembakarannya. Matanya tiba-tiba melotot. Dan suaranya menjadi parau. “Kalian berdua ikut aku ke ruang sebelah….Sebelumnya Nyonya minum air dalam kendi ini. Air suci dari negeri jin Timur Tengah.” Mbah Sukmo menyodorkan kendi yang terbukti disiapkan khusus, dengan rerempahan yang mengandung unsur perangsang yang sangat kuat. Niat kotornya telah mulai dijalankan. Di sebelah ruang praktik mutlak tersedia gentong besar berisi bunga-bunga aneka macam. Dan suatu  dipan kayu, dan meja kecil di dekatnya. Lebih mirip kamar mandi. Mbah Sukmo menyuruh Nyonya Restuwati masuk mendekati gentong. Dan memberi perintah supaya Lisa menonton dari depan pintu ruangan. “Kita mulai dengan pembersihan seluruh tabir itu, Nyonya. Rapal terus mantra ini dalam hati sambil aku mengguyur badan Nyonya….Mojopahit agung, Ratu sesembahan jagad. Hong Silawe,Hong Silawe. ” lanjut Sukmo. Tangannya mengambil gayung di gentong dan mengguyur pada tubuh Nyonya Restuwati. Air kembang pun dalam sekejap membasahi jilbab dan gamis hitam Nyonya Restuwati. Terus menunjukan lekuk-lekuk tubuh Nyonya ini yang tetap ramping dan terjaga. “Edan..ngaceng kontolku rek.” batin Mbah Sukmo. Tangannya yang satu bergerak menggosok tubuh yang telah basah itu. Dari ujung kepalan Nyonya Restuwati yang tetap terbalut jilbab kuning, dahi, hidung, bibir, leher, dan merambat ke dua gundukan di dada Nyonya Restuwati. Sempat Nyonya Restuwati terkaget dengan sentuhan tangan kasar sang dukun, tapi buru-buru dirinya konsentrasi lagi dengan rapalannya. “Bagus terus konsentrasi Nyonya. Jangan hingga gagal, sebab bakal percuma ritual kita…
Sekarang lepas baju Nyonya biar reramuan kembang ini meresap dalam kulit Nyonya.” Perintah Mbah Sukmo yang langsung dituruti oleh Nyonya yang telah ngebet maka anak buah dewan ini. Nyonya Restuwati sangatlah telanjang bulat sekarang. Tubuh putih mulus dengan kulit yang tetap kencang. Menonton mangsanya dalam kendali, Mbah Sukmo terus berani. Badannya dirapatkan, supaya penisnya menempel di belahan pantat Sang Nyonya yang montok. Jemarinya terus nakal memainkan puting Nyonya Restuwati. Terus turun ke sela-sela paha Nyonya Restuwati, memainkan vagina Sang Nyonya. Seusai 5 menit, tampak tubuh Nyonya Restuwati bergetar, tanda-tanda bahwa ramuan perangsang telah mulai bekerja. Mbah Sukmo menuntun Nyonya Restuwati ke dipan kayu yang ada di ruangan itu dengan semua letupan birahi yang terus tidak tertahankan. Perhitungannya, tidak lama lagi, Sang Nyonya bakal tidak sanggup berdiri sebab melayang di antara alam sadar dan bawah sadarnya. Seusai menggeletakkan mangsanya, Mbah Sukmo meneruskan rangsangannya. Bibir tebalnya terus mencium seluruh tubuh Sang Nyonya. Wewangian kembang membikin nafsunya terus tidak tertahankan lagi. Bibir dan lidahnya menyerbu bibir vagina Sang Nyonya. Edan, orang kaya emang beda. Jembutnya aja ditata. Wanginya juga beda, batin Mbah Sukmo sesaat seusai menonton vagina Nyonya Restuwati. Nyonya anggun ini mulai terangsang hebat. Tubuhnya menggeliat-geliat setiap sapuan lidah Sukmo memutar-mutar klitorisnya. Pantatnya naik turun seakan ingin lidah Mbah Sukmo tertancap lebih dalam. “Eeeemmm….”Desah Nyonya Restuwati penuh kenikmatan. “Ini saatnya.” Pikir Mbah Sukmo membuka pakaian dan celananya dengan buru-buru lalu naik ke atas dipan, mengambil posisi di sela paha Restuwati. “Apa yang Mbah perbuat pada Mama?”Tiba-tiba semua perhatian Mbah Sukmo terbelah oleh pertanyaan Lisa. Iya, ada anaknya yang nonton dari tadi. Beda ama ibunya, Lisa pasti saja tetap sangat sadar. “Tenang cah ayu. Mamamu wajib melakukan ritual paling atas kharisma asmaradana. Aku wajib menyatu lewat persenggamaan untuk membongkar tabir jahat pada Mamamu. Mamamu wajib ditolong. Kalian mau pengabdian Mamamu tidak sia-sia bukan,Nduk?” “Iya,Mbah.” “Sekarang diam di situ. Dan bantu perjuangan Mbah dan Mami dengan rapalan tadi….” perintah Mbah Sukmo sambil mengembalikan konsentrasinya pada penisnya yang telah berdiri tegak. Urat-urat penisnya terus membesar, pertanda telah sangat siap untuk melakukan penetrasi. Kepala penis Mbah Sukmo yang mirip jamur raksasa berwarna hitam itu saat ini telah berada di bibir vagina Nyonya Restuwati. Bibir vagina yang telah basah sebab cairan itu merekah saat kepala penis Sang Dukun mulai membelah masuk. Mbah Sukmo mengatur napasnya. Perjuangannya untuk menembus vagina Nyonya satu ini nyatanya lumayan sulit. Diameter penisnya terlalu besar untuk vagina Nyonya Restuwati. Baru kepala penisnya yang sanggup masuk. “Aaaaah…seret juga milikmu,Restuwati sayang. penis suamimu payah rupanya. Tahan sedikit ya. Mbah bakal beri kenikmatan hebat…” bisik Sukmo pada telinga Restuwati. Di lingkarkannya tangan gempal Sang Dukun pada pantat montok Nyonya Restuwati. Dadanya bersandar pada dua payudara Restuwati. Dan dengan hentakan keras, dibantu tekanan tangannya, penis Sukmo melesak masuk. “Eeeeemmmphmm,…mm..mm.”Desah Restuwati sambil merem melek. Pengaruh ramuan perangsang plus hentakan tadi rupanya membikin sensasi luar biasa bagi Restuwati. Sukmo pun merasa nikmat luar biasa. Dibanding milik istri mudanya pun, milik Restuwati tetap lebih legit. Mungkin sebab orang kota pandai memelihara diri, pikir Sukmo sambil menikmati pijatan vagina Restuwati. “Plok…plok…plok…plak…plak…plak..” suara perut Mbah Sukmo berjumpa kulit putih Restuwati. Sesekali Mbah Sukmo menelan ludahnya sendiri menonton batang besarnya yang hitam pekat keluar masuk vagina Restuwati yang putih mulus. Kontras, memunculkan sensasi yang luar biasa. “Ooooh…Mbah.” Restuwati mengeluh panjang. Tubuhnya mengejang hebat. Orgasme melanda wanita molek ini rupanya, batin Sukmo. Terasa cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Sukmo. Sukmo mengejamkan matanya menikmati sensasi canggih ini. Ia sengaja membiarkan Restuwati menggelinjang dalam orgasmenya. “Sekarang saatnya,sayang. Jurus entotan mautku. 6 isteriku sendiri tidak ada yang bisa tahan…”Bisik Mbah Sukmo sambil tersenyum seusai menonton orgasme Restuwati telah reda. Sukmo mulai mempercepat genjotannya. Naik turun tanpa lelah. Pantat Restuwati pun mengikuti irama genjotan Mbah Sukmo. Sesekali sengaja dirinya tarik penisnya hingga hanya menyisakan kepalanya. Membikin pantat Nyonya Restuwati terangkat seakan tidak rela barang besar itu keluar dari vaginanya. Mbah Sukmo luar biasa tubuh Restuwati hingga merubah posisi menjadi duduk. Sambil memeluk pinggul Restuwati, Sukmo meneruskan sodokannya. Restuwati pun mengimbangi dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Gerakan pantat Restuwati membikin penis dukun tua itu semacam diremas-remas. Sebab hasratnya yang telah memuncak. Nyonya Restuwati mendorong Sukmo rebah. Dan saat ini Nyonya anggun itu mengambil kendali dengan liarnya. Rambut panjangnya terurai berkibar-kibar. Peluhnya membikin kulit putihnya seakan mengkilap. “Hong Silawe,…uuuggh…mmm..mmmph…Hong Silawe…aaaaahhh…” Dalam gerakan liarnya pun Restuwati tidak lupa menyimak manteranya. Mbah Sukmo tersenyum dan menikmati itu sebagai pemandangan yang begitu erotis. Dua tangannya meraih dua payudara Restuwati yang terayun turun naik. Meremasnya dengan gemas. Sesekali tubuhnya terangkat untuk memberi peluang bibirnya mengulum dua puting yang menggoda itu. Nyonya Restuwati mengerang dengan hebatnya. Suatu  percumbuan yang canggih ini mungkin baru hari ini dirinya alamiah seumur hidupnya. “Ooooohh….ooohh…uuuggh.Hong….aaaaah…Silawe..Ratu…j agaaaad…aaaah” Restuwati terus meracau tidak karuan. Tubuhnya mulai tidak kuasa kembali menahan kenikmatan dahsyat ini. Restuwati terus meliuk di atas tubuh tua Sang Dukun. Pantatnya mengayun dengan irama yang terus kacau. Dan, kedua tangannya memegang rambut panjangnya. “Bagus, sayang…terus rapal.rapal…aaah…rapal..kita hingga bareng, Restuwatiku….hhhhmmpphh..”Mbah Sukmo pun merasakan penisnya mulai berkedut. Sambil mencengkram keras pinggul Nyonya Restuwati. Mbah Sukmo menolong mempercepat kocokan dari bawah. Tubuh Mbah Sukmo mulai menegang. Dan sambil bangkit mendekap Nyonya Restuwati, Mbah Sukmo mengeluh keras, “Aaaaaaaaagghhh…ghh…Restuwati…” “aaaaagggh….mmmmph…mmmp…aaaaah.”Nyonya Restuwati pun menyambut pelukan Sang Dukun. Tubuhnya bergetar untuk kedua kalinya. Rupanya inilah kali kedua Restuwati mendapat orgasme canggih di dipan kayu ini. Badan seksi Nyonya yang anggun ini pun roboh didekapan Sukmo yang tetap merem melek menikmati sisa orgasmenya dari caleg cantik ini. Dua-tiga menit ia memeluk Restuwati, membiarkan penisnya menikmati hangatnya liang peranakan Restuwati. Seusai menidurkan Nyonya Restuwati yang kelelahan di dipan, Sang Dukun melepaskan penisnya dari vagina Nyonya Restuwati. Ia bangkit dari dipan dan menghampiri Lisa yang mandi keringat menyaksikan mamanya disetubuhi dengan canggih tadi. Kaos ketat Lisa yang basah keringat menampakan kemolekan gadis yang baru merekah ini. “Hong Silawe…Silawe…mamamu telah melakukan ritual paling beratnya, Cah Ayu. Biarkan dirinya istirahat dulu.” ucap Mbah Sukmo sambil menggamit tangan Lisa yang tetap terpaku dengan apa yang baru dirinya lihat tadi. Mbah Sukmo menuju karpet besar di area meja praktiknya. Ia kemudian meneguk air teh dalam gelas seng yang besar di mejanya. Dipandanginya Lisa yang duduk di karpet. Sangatlah sangat cantik daun muda ini. Rambutnya yang dipotong singkat dengan tubuh yang langsing dan padat, menunjukan energi muda dari gadis yang sporty ini. Dengan tetap telanjang, Mbah Sukmo mendekati Lisa yang duduk memandangnya. Batang penisnya mulai menegang lagi, ingin merasakan nikmatnya vagina belia ini. “Lisa, dengarkan aku. Tinggal selangkah lagi. Dan semua ritual ini bergantung kalian sebagai puterinya. Kalian ikuti saja perintahku. Kami tuntaskan ritual agung ini.Siaap?” “I…i…ya..Iya Mbah…” Lisa menjawab, gadis ini agak tergagap sebab pandangannya yang terfokus pada penis Mbah Dukun yang kembali perkasa. Kilatan bekas cairan vagina mamanya tetap nampak dari batang penis Mbah Sukmo. “Hong Silawe…Silawe…kemari Nduk. Hisap kontol ini dengan mulutmu. Perbuat dengan benar ya Cah Ayu.” perintah Mbah Sukmo sambil menyodorkan penisnya di depan mulut mungil Lisa yang tetap duduk bengong di karpet tebal ruang praktiknya. Lisa tetap terdiam terpaku. Dadanya naik turun, dengan nafas tetap memburu. Terasa vaginanya basah sebab cairan. Ada perasaan aneh menyaksikan pergumulan Mami yang begitu dicintainya dengan lelaki tua itu. Pergumulan itu begitu membikin rasa keingintahuannya muncul, meskipun rasa takut begitu dominan saat ini. Pengalaman pertama yang justru didapatkannya dari mami dan lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya itu. “Nduk, ayo, keburu roh mistik yang mau membuka tirai penghalang impian mamamu pergi..” ucap Dukun Sukmo mendekat. Penisnya yang berdiri begitu tegak dengan urat-urat besar dan warna hitam pekat, terkesan begitu menakutkan bagi sang dara. Bandot tua ini telah tidak tahan untuk mencicipi tubuh anak kota yang begitu terawat. Begitu putih semacam mamanya. Begitu langsing dan terawat. “Lisa takut Mbah…” desah Lisa perlahan, sambil kedua telapak tangannya saling meremas. Mbah Sukmo menghela nafasnya. Dirinya mengelus rambut hitam mangsanya dengan senyum manis. “Tidak usah takut Cah Ayu. Semua tidak menyakitkan. Kalian wajib melakukannya sebelum pengabdian mamamu dan Mbah percuma. Kalian sayang mamamu, bukan?” Sang Dukun pun menebar jebakan mautnya membikin Lisa tidak mempunyai opsi kecuali menganggukkan kepala. Dan dengan sigap, Mbah Sukmo mendekatkan penisnya di depan bibir mungil itu. “Jangan hingga kena gigi ya Cah Ayu. Kulum, sedot dan pakai lidahmu…begitu ritualnya.” Tetap dengan ragu-ragu Lisa memegang penis yang hingga begitu besarnya tidak lumayan dalam genggamannya. Mbah Sukmo segera mendorong kepala Lisa maju mundur. “Hong Silawe…Silawe…setan belang, jangkrik monyong….terus Nduk.” ucap Sukmo keenakan. Lisa terus mengulum batang penis Sukmo. Setiap sedotan membikin lelaki bobrok itu merem melek. Terkadang, saking tidak sabarnya Sukmo mendorong terlalu keras hingga separoh batangnya menyodok masuk ke dalam tenggorokan Lisa. Air liur Lisa membasahi hangat penisnya, menggantikan sisa-sisa cairan kemaluan mamanya sendiri. “Hoooo oooh…bener gitu caranya Cah Ayu…” Sukmo makin kelojotan, batang penisnya terus membesar maka nyaris membikin Lisa kesulitan bernapas tiap kali dukun cabul itu memaksa batangnya memenuhi mulutnya. Tangan Sukmo meremas-remas rambut singkat Lisa. “Ah, beruntungnya aku. Anak ini cantiiiiik banget. Mirip bintang film sinetron Agnes Monica. Mungil, tetapi seksi,” pikir Sukmo. “Sekarang jilati kantong bola kontol Mbah sayang….di situ tempat semua pengasih untuk membuka tirai penghalang Mama…” lanjut Sukmo. Dan Lisa pun menurut. Dua buah zakar Sukmo dikulumnya bergantian. Membuatnya tidak kuasa menahan semua kenikmatan ini. Dirinya pun menjadi terus bergairah dan bernafsunya. “Sekarang giliran Mbah….” tanpa ba-bi-bu sebab diselimuti nafsunya. Tangan-tangan dan lidah Sukmo berebutan menjamah tubuh gadis cantik yang baru tumbuh-tumbuhnya ini. “Mbah, Lisa malu…” Ketika dua tangan Mbah Sukmo berusaha melucuti kaos ketatnya. Tangan-tangan mungil Lisa berusaha menahannya. Namun, Sukmo tidak peduli lagi. Diserangnya ketiak kiri-kanan sang gadis sambil luar biasa kaosnya. Breeet….terlihatlah dada putih mulus dengan dua gundukan yang indah bentuknya tetap dalam perlindungan BH hitam berendanya. Tidak sebesar mamanya memang, tapi bentuknya begitu paripurna, pikir Sukmo. Belum sempat dijamah laki-laki. Tetap bentuk alamiah yang mengajak tangan-tangan kasarnya meremas dengan gemas. “Demi mamamu sayang….demi mamamu.” Sukmo menggeletakkan tubuh Lisa yang didera kebingungan dan rasa nikmat yang pertama kali dirinya rasakan itu ke karpet. Ciuman dukun tua itu memborbardir bibir mungil Lisa, dan seluruh bagian lehernya. Dan dua tangannya yang lebih kuat luar biasa lepas BH itu dari dua payudara yang ingin disentuhnya langsung. Kulit ketemu kulit. Sukmo berhenti sejenak. Pemandangan yang luar biasa membuatnya tertegun. Bahkan ketika malam pertamanya saat mengambil kegadisan isteri pertamanya, tidak sempat dirinya menemukan sensasi sehebat ini. “Hong Silawe…Silawe. Kalian cantik sekali Nduk. Dua payudaramu ini wajib disedot untuk mengeluarkan hawa penolong mamamu….” Semacam tidak sabar, bibir tebal Sukmo pun menyerbu dua puting payudara Lisa bergantian. Tangannya pun bergantian meremasnya. Kadang gerakan halus melingkar searah jarum jam di kurang lebih puting, kadang remasan kepada semua bagian payudara Sukmo. “Aaaahh…Mbah.” Lisa mulai terhayut dalam permainan Mbah Sukmo yang begitu membikin dirinya melambung. Dua putingnya telah mancung sebab rangsangan canggih Sang Dukun yang kaya pengalaman ini. Seusai hampir 30 menit dicumbu. Tubuh Lisa menggeliat tetapi dengan kaki tetap terkatup. Sang Mbah pun menggelar serangan kilat bagian berikutnya. Salah satu tangannya mulai mengarah ke selangkangan Lisa. Dibelainya selangkangan gadis itu dari luar. Mulut dan tangan Sukmo mulai bergeser posisi turun, ke perut dengan dua tangannya tetap bergantian memutar-mutar puting Lisa. Lisa pun makin menggelinjang. vaginanya pun terus basah. “Mbah, telah jangan Mbah…”Lisa tiba-tiba tercekat dalam sadarnya. Tangannya memegang dua tangan Sukmo yang telah berhasil membuka kancing dan resliting celana jeans yang membungkus bagian bawah tubuhnya. Sial, canggih juga kesadaran bocah ini, pikir Sukmo. Rupanya penaklukannya menjadi tidak mudah sekarang. “Kamu mengacaukan semuanya!!!!” bentak Sukmo dengan membikin mimik wajah paling angkernya. “Roh marah dan pengabdian mamamu sia-sia malam ini…Sudahlah, lenyap mimpi mamamu!!!” Lisa yang terduduk sambil meringkuk pada dua pahanya tertegun menonton akting top markotop sang dukun. Perasaan bersalahnya mulai muncul. Diliriknya tubuh mamanya di dipan yang tetap mandi peluh sebab percintaan hebatnya tadi. “Ah, mami telah berjuang keras, dan tidak pantas aku menghancurkannya,” batin Lisa. Menonton lawannya bingung, Sukmo pun terus memasang akting cuek dan marah. Dan ia membalikkan badannya menuju meja persembahannya. Lisa pun terkesan mulai panik. “Maaf,Mbah. Lisa cuma takut. Nggak sempat Lisa semacam ini….”Lisa pun menubruk tubuh Mbah Sukmo dari belakang. Tidak sengaja dua tangan mungil itu bersentuhan dengan penis Mbah yang telah lapar ini. Sukmo pun tersenyum….. “Masih bisa diatur asal Lisa sangatlah siap dalam upacara ini. Kini Mbah bersila di sini. Lisa berdiri tiga kaki dari posisi Mbah. Perbuat perintah Mbah….” ucap Mbah Sukmo dengan nada tinggi. Lisa menurut. “Apa perintah Mbah…?”Tanya Lisa seusai berada di jarak yang diharapkan Sukmo. “Kamu bisa menari Nduk? Liukkan tubuhmu, menarilah untuk menggoda sang roh mistik datang lagi…..yak, terus raba badan neng sendiri. Yah, begitu….mulai lepas celana jeans itu!” Sukmo menikmati ABG cantik ini menari begitu erotisnya, meliukkan pinggulnya yang ramping, dengan dua payudara yang bergantung leluasa naik turun mengikuti gerakan Lisa. “Rebahkan tubuhmu di karpet itu,Nduk…” ucap Sukmo lirih sambil menahan nafsunya yang telah melambung. Tubuh seksi Lisa yang mengkilap basah oleh keringat dan air liur Sukmo rebah tidak jauh dari Sukmo. Lelaki tua ini pun merangkak menghampiri bunda jari kaki Lisa. Dengan lembut dikulumnya jari-jari kaki Lisa, terus bibirnya menelusuri betis, dan terus menaiki paha sang dara jelita ini. “Uuuuugh…”Terdengar desisan tertahan dari Lisa. Sukmotidak menyia-nyiakan keadaan. Lidahnya pun menyodok-nyodok vagina Lisa yang terlindung dibalik CD hitam berenda itu. Lisa terus kelojotan. Dan dengan cepat, tangan Sukmo luar biasa turun CD Lisa dan melemparnya ke karpet. “Jangan takut Nduk. Semua bakal lancar” bisik Sukmo ketika Lisa menunjukkan keraguan. Selanjutnya, lidah Sukmo menyibak rambut vagina Lisa yang tertata rapi ini. Menerobos masuk, menjilati klitoris Lisa. Lisa sangatlah melayang menikmati permainan lidah yang dahsyat dari Sang Dukun. Menonton Lisa mulai menggelinjang, Sukmo terus melanjutkan serangannya. Lidah Sukmo menusuk-nusuk liang vagina Lisa yang terus banjir itu. Tanpa bisa mengontrol dirinya, tanpa terasa tangan Lisa telah menjambak rambut panjang sang dukun. Dan terus dekat dengan kenikmatan, terus keras tangan Lisa luar biasa rambut Sukmo. “Aaaaaahh…hhh..Mbah..” lenguh Lisa. Tubuhnya bergetar. Perasaan yang luar biasa. Dirinya mengalami orgasme pertamanya dalam hidupnya sebagai wanita. Sukmo tersenyum. Dirinya membiarkan sekian detik Lisa menggelepar dalam kenikmatan. Sukmo pun merangkak mendekati bibir Lisa, dan menciumnya lembut. “Sekarang saatnya upacara utama,Nduk. Kalian siap?” Mangsanya terdiam, tetap dalam kenikmatan luar biasa yang tidak sempat dirasakannya. Sukmo pun mengarahkan kepala penisnya yang mirip jamur besar itu di bibir vagina Lisa. Lisa melenguh saat bibir vaginanya membuka perlahan, saat penis raksasa itu mulai menembus vaginanya. “Lisa takut,Mbah…” desis Lisa menonton penis besar yang terasa tidak mungkin bisa masuk ke dalam celah vaginanya itu. “Sabar Cah Ayu. Sakit cuma di awal. Pengabdian untuk mamamu…”Sukmo begitu lihai memainkan perasaan sang dara ini. Dirinya pun mempersiapkan pergerakan penisnya. Perlahan kepala penis Sukmo mulai masuk. “Aaaah…sakiiiiittt…ttt..tt..,Mbah.” teriak Lisa. Sukmo telah tidak begitu menggubrisnya. Dirinya dan senjata pamungkasnya telah begitu sibuk menikmati sensasi menembus keperawanan gadis seksi ini. penis Sukmo pun terus bergerak pelan tetapi pasti diiringi rintihan kesakitan Lisa. “Sabar,sayang…..Heeeeeehhh…hhhh…”Mbah Sukmo pun menghentakkan pinggulnya dengan kekuatan penuh. “Aaaaaahhh…..Mbah…Sakiiiit.” Bleeeeessss…seluruh batang penis Sukmo yang besar itu tenggelam dalam vagina Lisa yang begitu terasa sangat sempit. Air mata Lisa mengalir di sela dua matanya merasakan perih selaput daranya dirobek benda besar yang tidak sempat dibayangkan bisa berada dalam liang vaginannya. Seusai sejenak membiarkan vagina Lisa beradaptasi, Mbah Sukmo mulai menggoyangkan pantatnya naik turun. Tampak batang besar penis Sukmo keluar masuk dengan kokohnya. Cairan vagina bercampur darah perawan Lisa. Rapatnya vagina Lisa membikin Dukun sableng ini merem melek menikmati semua kenikmatan yang mungkin sebelumnya hanya bisa didapatkan dalam mimpi. Lisa kelojotan menerima hantaman penis Sukmoyang terus menerjang tanpa ampun seolah ingin membongkar rapatnya vagina perawan Lisa. Peluh membasahi dua insan yang berjauhan usia itu. “Uuuuugh…hh..eeeemph.”Lisa melenguh ketika Mbah Sukmo luar biasa tubuhnya dalam posisi duduk. Semacam insting alamiah, tubuh Lisa seakan paham untuk mengambil peran dalam pergumulan posisi ini. Pantat Lisa naik turun, pinggulnya meliuk memperkuat remasan vagina Lisa kepada batang penis Sukmo. Sukmo pun menyambut dari bawah dengan sodokan terhebat penisnya. “Hong Silawe..Silawe…weee…wwweee…wenaaaakkk,Nduk.” Sukmo meracau penuh kenikmatan. 10 menit dalam deru nafas Lisa terus ga karuan. Tangannya memeluk Sukmo. “Aaaaahhh…hhh…..hhh..Mbaaaaah..” Lisa orgasme untuk kedua kalinya. Sukmo menyambut pelukan Lisa dengan lembut. Mengurangi daya sodokan untuk memberikan peluang gadis ini menikmati pengalaman orgasme keduanya yang indah, Sukmo memberi kecupan hangat di bibir gadis cantiknya. “Gimana,Nduk? Siiiiiiap dengan ritual kenikmatan berikutnya sayang?” bisik Sukmo diiringi anggukan lemah Lisa. Dengan sigap Sukmo menidurkan tubuh Lisa dengan tetap memegang pinggul gadis cantik itu dengan dua tangannya yang kuat. Lalu ia membawa dua kaki Lisa dan meletakkannya ke pundaknya dengan posisi penis tetap di dalam liang senggama Lisa. “Eeeeemmphh…phh..aaahh…” Lisa mendesah ketika dalam posisi barunya Mbah Sukmo mempercepat genjotannya. Terus cepat batang Sukmo keluar masuk, diiringi naik turunnya payudara Lisa. Cairan vagina Lisa terus memberi pelumas bagi rudal raksasa ini untuk mengaduk-aduknya, memaksimalkan kenimatan dua insan itu. “Aaaaaah…enak sekali vaginamu Cah Ayu.” bisik Sukmo sambil meraih puting Lisa dengan bibirnya di sela genjotan itu. Hampir 30 menit Sukmo tanpa kenal lelah terus menyetubuhi gadis cantik itu. Peluhnya bahkan menetes jatuh di perut langsing Lisa, bercampur dengan keringat sang gadis. Kulit Lisa terkesan terus mengkilap sebab peluh yang membasahi semua bagian tubuhnya. Nafas keduanya saling bersahutan dengan sesekali diiringi erangan penuh kenikmatan. Hingga entah sodokan yang ke berapa ratus kali, tubuh Lisa kembali mulai menunjukkan tanda-tanda orgasme bakal kembali melanda. “Eeeeergghh..aaaaahh…Mbah…Lisa ga tahan lagi.” desah Lisa sambil mencengkram karpet dengan kuku-kuku tangannya. “Saaaabaar, sayang….aaaahh..aahh..Mbah juga mau hingga.” Sukmo mempercepat genjotannya. Urat-urat penisnya berkedut tidak sanggup dibendungnya. Dengan semua kekuatannya yang tersisa, dihentakkannya penisnya dalam-dalam hingga mentok ke dasar rahim Lisa. Diiringi teriakan orgasme yang dahsyat, “Aaaaaahhhhh……aaaahhh….Lisa….Silawe…Aaahhh..Hoong… Lisaaaa….” Lisa pun mengejang hebat, cairan vaginanya muncrat bertumbukan dengan tumpahan sperma Mbah Sukmo yang sepertinya memenuhi liang kenikmatannya. Tubuh Sukmo roboh di atas pelukan Lisa. Lemas, puas, dan nikmat. Sukmo pelan-pelan mencabut penisnya dari vagina Lisa. Senyuman kemenangannya tersungging di pipinya saat menonton sisa-sisa spermanya menetes keluar dari vagina gadis cantik itu, berbaur dengan cairan vagina dan darah perawan. “Mandilah, di kamar mandi itu. Upacara kami berhasil Nduk. Mamamu bakal memperoleh semua yang diinginkannya.” ucap Sukmo sambil melemparkan kaos dan jeans pada Lisa yang tetap terlentang di karpet. Gadis ini tetap tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Dipungutnya pakaiannya, dan dengan langkah kaki yang tetap lemas dirinya masuk ke bilik kamar mandi di mana sang mami tetap lelap dalam kebugilannya. “Gua juga dah bisa yang gua inginkan. Nyoblos terbukti nikmat, daripada nyoblos di TPS mending nyoblos langsung calegnya hehehe!” ucap Sukmo dalam hatinya sambil ketawa kecil.

Kisah seks dengan mbak juminten pembantuku

Kisah seks dengan mbak juminten pembantuku
Namaku Agus, 28 tahun, kisah ini terjadi 3 tahun lalu ketika aku mengawali karir baru sebagai auditor di PTPN IV di kawasan perkebunan Teh di Jawa Barat.
Aku tinggal seorang diri di rumah dinas mungil serta asri semi permanen di kurang lebih kebun. Untuk keperluan bersih2 rumah serta mencuci pakaian aku mempekerjakan seorang pesuruh harian, mbak Juminten.
Wanita ini berusia 44 tahun, hitam manis, tinggi skitar 160 serta tubuhnya sedikit gempal. Mbak Juminten orisinil Solo, dirinya menikah serta ikut suami yg bekerja di perkebunan ini. 5 tahun yg lalu suaminya wafat serta meninggalkan seorang balita perempuan berusia 5 tahun. Mbak Juminten mengontrak rumah kecil di desa kurang lebih perkebunan bersama bunda mertuanya yg sdh tua.
5 bulan mbak Juminten melayani keperluanku dgn baik, meski agak pendiam serta terbukti kami jarang berjumpa kecuali di akhir pekan. Gaji yg aku berbagi sebetulnya diatas pasaran, ttp mungkin sebab besarnya kebutuhan beliau sesekali meminjam uang dariku. Akhir-akhir mbak Juminten meminjam uang lebih besar dari biasanya, seusai aku tanya dgn detail akhirnya dirinya mengakui telah terjebak rentenir dampak kebiasanya membeli togel serta arisan.
Tidak mengerankan, hanya berbagai bulan berlalu mbak Juminten telah meminjam uangku lebih dari 2 jt, serta pada usahanya meminjam terbaru aku menolaknya dengan halus.
Pagi itu dirinya sangat bimbang serta panik, dengan meneteskan air mata beliau mencoba terus memohon utk memberinya pinjaman kurang lebih 1,5 jt utk menutupi tuntutan hutang dari bandar judi togel di desa.
Aku kembali menolak dengan tegas, serta mbak juminten terus terisak.
Aku memperhatikan wanita paruh baya ini dgn seksama, wajahnya semacam kbanyakan wanita jawa pada umumnya,tdk cantik tp aku akui tetap terkesan lebih muda dari umurnya. Serta sebetulnya selama ini juga aku sesekali melirik tubuh bawahnya yg msh kencang serta bahenol meski pikiran kotorku tdk melangkah lebih jauh.
Semalam, aku serta berbagai temanku pernah iseng nonton film blue sambil makan sate kambing dari warung makan Pak Kirun di ujung desa serta minum berbagai botol anker bir.
Pagi itu terasa akumulasinya. Kesadaranku belum begitu pulih.
Aku mencoba menepis pikiran itu, bagaimanapun itu bukan diriku yang sebenarnya. Mbak Juminten juga jauh dari jenis wanita yg aku inginkan. Terlebih aku takut dengan dampak yg dapat saja terjadi. Bagaimana kalau dikemudian hari kenekatanku bakal berbalik menjadi bencana utk diriku serta karir.
Pikiranku tetap silih berganti antara pertimbangan kotor serta waras. Mbak Juminten tetap duduk bersimpuh di depanku sambil melelehkan air mata. Ruangan menjadi sunyi. Well, aku tidak mungkin tega menolak permohonanya, tapi setidaknya dirinya wajib belajar utk berfikir panjang.
“Jangan duduk di lantai mbak, dikursi aja, saya maka gak enak” aku mengawali bicara.
“Nggih Den..”
Dia bangkit untuk berdiri,bagian bawah pada daster lusuh itu sedikit tersingkap ketika dirinya berdiri, ada tahap yg tidak sengaja menyangkut pada tonjolan kepala peniti pada kancing terbawahnya,sebagian pahanya yang besar serta lututnya terkuak
dihadapanku berbagai detik. Buru2 dirinya menariknya kebawah begitu tersadar. Pikiranku kembali kacau.
“Hmm…bingung saya mbak..”Jawabku, kepalaku tetap terasa pusing hasil minum2 semalam, aku menekan segi kiri kepalaku.
“Kenapa den, pusing?” Tanya mbak Juminten.
“Iyah, semalem begadang sm temen2..” Jawabku.
“Mbak ambilin aer putih sebentar..”Serunya sambil segera berlalu ke dapur.
Sekelebat aku tetap pernah melihatnya melangkah pelan, setan makin kuat mempermainkan pikiranku. Bongkahan pantat itu bergoyang2 dibalik daster, mungkin pakaian dalamnya sdh sempit, serta bayangan mengenai pahanya yg td pernah terkesan itu makin menggangguku.
“Makasih mbak” ujarku ketika menerima segelas air putih serta meminumnya perlahan.
Mbak Juminten tetap berdiri di depanku, menungguku berakhir minum. Aku menyumpahinya dalam hati, melihat tubuhnya lebih dekat semacam itu pikiranku makin terpuruk.
“Duduk aja mbak, santai aja, kami bicarain dengan tenang ” ujarku.
“Iya den..” Jawabnya pelan.
“Gak tidak sedikit mbak mo minjem segitu?, terus terang saya keberatan, kayaknya yg kemaren2 telah cukup..” Ujarku mengawali kembali pembicaraan.
“Sebenernya utangnya sejuta tuju ratus den, tapi mbak nambain pake simpenan dirumah, tolong banget den, mbak sebenernya malu banget tp kepaksa..”Jawabnya dengan suara lirih.
“Waduh..”Jawabku terputus.
Aku kembali terdiam, kepalaku tetap terasa pusing. Aku menatap pemandangan luar dari jendela. Sebetulnya tidak maka soal utk soal jumlah uangnya, cuma segi gelapku tetap mencoba meyakinkanku utk mengambil kesempatan.
Mbak Juminten menatap ke lantai, pikiranya tetap kalut. Dirinya menanti jawabanku dengan putus asa. Aku akhirnya menyerah, biarlah, ini utk terbaru aku membantunya, serta berharap dirinya segera pulang supaya sesuatu yg terburuk tidak terjadi pagi ini.
“Okay mbak, sebetulnya ini berat buat saya..” Ujarku.
“Mbak rela ngelakuin apa aja den supaya den percaya mbak mau balikin uangnya..”Sergahnya.
“Apa aja..” Waduh, kata2 itu sangat menggelitik benakku. Perempuan bodoh, seruku dalam hati.
“Ngelakuin apa aja maksudnya apa nih mbak..”Tanyaku sambil tersenyum.
“Apa aja yg den agus minta mbak kerjain ..”Jawabnya lugu.
“Selain urusan rumah terbukti apa lagi yg dapat mbak kasih ke saya?” Kalimatku mulai menjebak.
“Hehe..apa aja den..” Jawabnya sambil tersipu.
“Mbak..mbak..hati2 klo ngomong..”Aku menghela nafas menahan gejolak batin.
“Maksudnya apa den..”Tanyanya heran.
“Saya ini laki2 mbak, kelak kalo saya minta macem2 gimana..”Lanjutku mulai berani.
“Mbak gak paham den..” Wajahnya tetap bingung.
“Yaa gak usah bingung, katanya mau ngelakuin apa aja..”Godaku.
“Yaa sebut aja den, kelak mbak usahain kalo terbukti agak berat dikerjain..”Jawabnya.
“Walah..mbak..mbak..yaa telah saya ambil uangnya sebentar, tapi janji yah dikembaliin secepatnya”aku berusaha menyudahi perbincangan ini.
“Makasih den..makasih banget..”Jawabnya lega.
“Tapi emangnya den Agus tadi mau ngomong apa,mungkin mbak dapat bantu?”Lanjutnya.
Aku yg tengah berjalan menuju kamar terhenti, hari ini pikiranku telah tidak terkontrol lagi, kalimat itu semacam bakal meledak keluar dari mulutku.
Aku membalikan badan, menatapnya dengan seringai aneh.
“Mbak yakin mau nurutin apa aja kemauan saya?”Sergahku.
“Iya den, ngomong aja..”Jawabnya.
Dasar perempuan bego ujarku dalam hati.
” Saya kepengen mbak masuk ke kamar saya..”Kalimat selanjutnya semacam tercekat ditenggorokan.
“Terus Den?” Tanyanya penasaran.
” Mbak temenin saya tidur..”Ucapanku serasa melayang diudara, jantungku berdegup kencang.
Wajahnya sontak kaget serta bingung. Aku tau dirinya tentu bakal bereaksi semacam itu, tapi salahnya sendiri. Aku telah berusaha keras utk menahan diriku utk tidak berniat aneh pada dirinya tapi kesadaranku belum penuh utk melawan kegilaan ini.
“Maksudnya..maksudnya apa den..mbak kok maka takut..”Wajahnya mulai memucat.
“Iya temenin saya di ranjang, saya lagi kepengen gituan dengan perempuan sekarang..”Jawabku, aku tau mukaku memerah.
“Mmm…tapi..tapi itu kan gak mungkin den..”Ujarnya dengan suara pelan.
“Mungkin aja kalo itu syaratnya mbak mau pinjem uang..”Jawabku .
Ruangan kembali sunyi, mbak Juminten tertunduk, menggenggam kedua tanganya dengan gelisah. Ada rasa sesal telah mengucapkan kalimat tadi, tapi telah terlanjur. Aku telah tidak mungkin menariknya, kini biar segi gelapku yg bertindak.
“Gimana mbak?” Tanyaku sambil kembali duduk dikursiku.
“Tapi itu gak mungkin Den..gak mungkin..mbak bukan perempuan kaya gitu..” Jawabnya, suaranya kembali lirih.
“Hhhh…” Aku menghela nafas berat.
Mbak Juminten wajahnya kembali muram, matanya menatap ke luar pintu, kosong, sperti berpikir keras.
“Mbak gak nyangka kok aden dapat2nya minta yang kaya gitu..mbak ini sdh tua..gak pantes ..”
Aku diam berbagai saat. Ada rasa amarah tanpa argumen bermain dipikiranku.
“Itulah laki2 mbak..” Hanya itu kalimat yg dapat meluncur dari mulutku.
Dia mungkin rugi telah mengucap kata2 yg tadi memancing kenekatanku. Tapi situasinya telah terjepit, wanita lain mungkin bakal menghardiku serta segera berangkat menjauh, sementara mbak Juminten tidak punya opsi lain.
“Sekarang terserah mbak, saya tetep kasih uang yg mbak minta, kalo mbak mau menuhin kemauan saya okay, gak juga silahkan..”Jawabku pelan sambil melangkah ke kamar.
Aku kembali ke ruang tamu dengan sejumlah uang ditangan. Aku meletakanya pelan di atas meja kecil di depannya. Wajahnya tetap terkesan tegang, dirinya hanya melirik sebentar ke arah meja kemudian kembali tenggelam dalam pikiranya.
Kami kembali sama2 membisu. Sesekali aku menatapnya, dirinya menyadari tengah diperhatikan olehku.
“Den…apa aden yakin …?” Tiba2 dirinya berucap.
“Sebetulnya saya gak tega mbak, tapi entahlah..itu yg ada dalam otak saya sekarang..terserah mbak de..”Jawabku dengan tenang.
Matanya berkaca2 menatap langit2 ruangan, perasaanya tentu tertekan. Dirinya kembali terdiam.
“Hmmmm…baiklah Den..mbak gak tau lagi mo ngomong apa, alias wajib kaya mana sekarang..kalo itu maunya aden..terserahlah..jujur aja mbak teh takut banget..mbak bukan prempuan gitu den..mbak terbukti janda..tapi bukan..”
“Sudahlah mbak, klo terbukti bersedia, skarang saya tunggu di kamar, kalo keberatan, silahkan ambil uangnya serta segera pulang..”Ujarku tegas, kemudian aku bangkit berdiri serta melangkah ke kamar.
Aku menggeletakkan tubuhku di kasur, trus terang aku pun dilanda ketakutan.Aku tengah dilanda gairah, tapi was2 dengan kemungkinan kurang baik yg dapat saja terjadi.
Butuh berbagai menit menunggu, pintu kamarku yg terbukti tidak terkunci perlahan2 bergerak terbuka. Mbak Juminten melangkah masuk sambil tertunduk, terkesan sangat kikuk.
Dia berdiri menatapku di samping ranjang, tatapanya penuh arti. Well, kalo saja aku tidak terlanjur berpikiran mesum mungkin aku segera berlari keluar kamar, aku merasakan takut yg sama semacam yg dirasa mbak Juminten.
Tapi aku berusaha tenang, aku bangkit serta duduk di pinggir kasur.
“Mbak yakin mau ngelakuin ini”?tanyaku.
“Hhh..sekarang smuanya terserah aden aja..”Jawabnya pasrah.
Aku menatapnya lekat2, pandanganku menelusuri seluruh tubuhnya, semacam ingin menelannya hidup2.
Tangan kananku meraih jemari kiri tanganya. Aku memegangnya pelan, jemari itu terasa dingin serta gemetar.
Memang telah wajib kejadianya semacam ini, apa lagi yg aku tunggu ujarku dalam hati. Makin cepat makin baik, setan itu membisiki bertubi2.
Aku luar biasa tangan itu supaya tubuhnya mendekat. Niatku sebelumnya ingin memeluknya terlebih dahulu, tapi nafsuku telah tidak tertahankan. Aku segera meneruskan dorongan tubuhnya yg limbung terhempas ke atas kasur.
Begitu dirinya terhenyak di sampingku, aku langsung menerkamnya, menghimpitnya dibawah tubuhku serta ciumanku langsung mendarat dibibirnya.
Aku tidak memberikanya waktu utk berpikir, aku melumat2 bibirnya, menciumi dengan kasar lehernya serta trus bergerak menjelajahi tahap dadanya.
Nafasnya tersengal, wajah itu tetap terkaget2 dengan apa yg sedang aku lakukan. Jemariku segera beraksi, aku menjamah bongkahan pahanya dibawahku, daster itu telah tersingkap ke atas.
Aku semacam kesetanan menciumi pahanya yg besar, mengecup berkali2 selangkanganya serta jemari tanganku yg lain langsung meremas buah dadanya. Gerakanku cepat terburu nafsu.
Sebentar saja seluruh tubuhnya telah ku jamah. Aku tetap menciuminya membabi buta. Tidak lama kemudian aku bergerak cepat membuka lepas pakaianya.
“Den..jangan den..sudaah..” Serunya ketika aku kembali menciuminya,hanya hanya bra serta celana dalamnya yg tersisa menutupi tubuhnya. Seraya kedua tanganya berusaha mendorong tubuhku.
Aku tidak memperdulikan perlawananya. Aku menduduki perutnya sambil kedua tanganku bergerak melepas bajuku.
Nafasku memburu, yg keluar dari mulutku hanyalah desahan penuh nafsu angkara murka. Wanita ini makin ketakutan melihatku.
Kemudian aku bangkit berdiri di atasnya. Kedua tanganku bergerak cepat melepas celana singkat serta celana dalamku. Mbak Juminten menangis.
Aku tidak perduli lagi, kejantananku telah berdiri mengacung di atasnya, mbak Juminten makin panik melihatku. Jemariku bergerak2 mengocok2 cepat batang penisku maka terus keras berdiri, matanya terpejam basah.
“Den..sudahlah den…jangan..sudahlah..mbak gak maka pinjem uang..sudaaah..”Jeritnya ketika aku kembali menduduki perutnya. Dirinya berusaha meronta tapi kedua tanganku dengan kuat menahan tanganya pada kedua segi bantal.
“Sudah terlambat mbak” Suaraku bergetar menghardiknya.
Aku memaksa kedua paha sekel itu terbuka, dirinya tetap berusaha menutupnya rapat. Kami bergumul berbagai saat, begitu ada lubang aku segera menekan kuat selangkanganku di dalam jepitan pinggul mbak Juminten.
Dengan gerakan kasar aku luar biasa ke samping paha kirinya. Tanganku langsung bergerak menuntun penisku ke arah vaginanya.
Aku pernah salah memposisikanya, dorongan penisku menggesek keluar di atas permukaan kemaluanya. Pada percobaan kedua kepala penis itu langsung menusuk masuk.
Mbak Juminten menjerit terperikan oleh rasa sakit..Wajahnya meringis,matanya menyipit menahan perih diselangkanganya. Dirinya sangat terkejut ketika benda itu menerobos masuk.
“Ahhh…shhh…oohhh..” Desahku,terasa nikmat menjalar melewati kejantananku hingga naik ke otak, aku semacam terbakar. Melihat kemaluan mbak Juminten yg berbulu lebat membuatku makin bernafsu. Tubuh kami tetap terdiam kaku berbagai saat.
Aku sedikit luar biasa penisku serta menusuknya kembali di dalam, mbak Juminten kembali tersedak,urat lehernya menegang, matanya menatap ke arah selangkangan, lelehan air mata itu tetap mengalir dipipinya.
Aku kembali mengulanginya, hari ini aku mendorongnya lebih keras. Mbak Juminten makin menjadi tangisnya.
“Ouhh..huuhuu..huhuu..deen..sudah denn…sudaaah..” Rintihnya sambil memegang bahuku keras.
….Selanjutnya aku lupa diri, aku meliuk2 menyodok selangkanganya. Penuh tenaga, makin lama makin cepat gerakanku. Bunyi derit ranjang kayu itu meningkatkan seru suasana.
Wanita ini mempunyai tubuh yg lumayan menawan. Meski telah berusia tapi kulitnya tetap kencang, bokongnya tebal serta bahenol. Pahanya yg besar itu mulus meski tidak putih, melingkari pinggulku.
Aku beringas menghempas2 tubuhnya di bawahku. Mbak Juminten telah berhenti menangis, matanya terpejam, hanya terdengar suara nafasnya yg terputus2, buah dadanya bergoyang2 mengikuti gerakanku. Wanita ini telah pasrah dengan apa yg tengah terjadi.
Bahkan ketika aku mengubah posisi, membawa kedua pahanya ke atas, menahanya tergantung di udara dengan kedua lenganku,kembali penisku terbenam,mbak Juminten hanya diam. Hujamanku makin leluasa serta dalam menjajah vaginanya yg terkuak lebar.
“.. Plok..plok..plok..” Suara gesekan selangkangan itu terdengar jelas ditelingaku.
Kemaluan mbak Juminten yg basah makin menghangatkan batang penisku di dalam. Sesaat lagi aku telah tidak kuat menahan desakan, aku semacam kesetanan menggenjotnya. Mbak Juminten semacam mengerti apa yg bakal segera terjadi.
“Den..tolong.. jgn keluarin di dalem den..tolongg…” Serunya memohon dengan suara gemetar.
Aku tidak menjawab, aku tengah fokus ingin menuntaskan aksiku. Sedikit lagi bakal hingga.
Mbak Juminten memekik menyebut namaku saat tusukanku tiba2 berhenti, tubuhku tengah meregang.
“Deenn..cabut deen…” Serunya panik sambil menekan perutku ke belakang.
Aliran sperma itu bergerak naik mendekati pangkal penisku, jemariku telah kuat mencengkram sprei. Beruntung aku tetap pernah luar biasa batang penisku keluar serta cocok sedetik kemudian semprotan pertamanya melompat keluar.
“Ahhhhh…sshhhhhh…mbaaak…aduuhhhh…..” Jeritku panik.
Belasan kali cairan hangat itu menghantam sebagian perut mbak Juminten. Aku terpapar kenikmatan luar biasa, mataku terpejam berbagai saat hingga akhirnya semuanya usai.
Mbak Juminten melihat proses akhir tadi dengan seksama, dirinya memperhatikan wajahku yg meregang, matanya was2 melihat penisku memuntahkan cairan kental itu membaluri perutnya.
“Sudah den..sudah puas ?” Ujarnya berbagai saat ketika aku tetap tersengal diam di atasnya, air mata itu kembali mengalir dari pinggir pipinya.Kalimat itu serasa menamparku.
Rasa penyesalan perlahan2 merayap . My gosh, aku baru saja menodai perempuan ini. Bagaimana mungkin hingga aku dapat sebejat itu.
“Maafin saya mbak..saya bener2 khilaf..” Jawabku bingung.
Aku beringsut mundur, memungut seluruh pakaianku, melangkah ke kamar serta meninggalkanya terbaring di ranjang.
Aku melepas kekalutan pikiranku dengan menghisap sebatang rokok di ruang tamu. Mudah2an mbak Juminten tidak memperkarakanku, menganggapnya berakhir hanya di sini. Aku menepuk2 keningku menyesali kebodohanku.
Mbak Juminten keluar kamar berbagai menit kemudian. Matanya sembab, dirinya duduk di kursi di sampingku, tanpa bicara. Suasana hening, aku tidak berani menatapnya alias mengawali pembicaraan.
“Ini uangnya saya ambil den, kelak diusahain dikembaliin kok..” Ujarnya pelan, suaranya berat,hidungnya semacam tersumbat cairan.
“Iya mbak, gak usah dipikirin soal kembalianya..dan..maaf soal yg tadi..”Jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Gak papa den..gak papa..”Jawabnya, tangisnya kembali pecah sedetik kemudian, bahunya terguncang2, aku hanya dapat terdiam.
“Sekali lagi maaf mbak..”
Dia mengangguk pelan sambil menunduk,tetes2 air mata itu tetap berjatuhan dipangkuanya. Aku meraih uang itu, melipatnya,kemudian memasukanya ke dalam kantung dasternya.
Jemariku menyentuh pangkal tangannya, menepuknya pelan kemudian tanpa bicara aku melangkah masuk ke kamar sambil menutup pintu. Aku tidak mampu lagi melihat wanita itu menangis. Aku terbaring,penat terasa, pinggangku nyeri.
Aku melihat Jam di dinding, pukul 2 siang, aku mungkin telah tertidur lebih dari 2 jam. Perutku sangat lapar, aku melangkah keluar kamar. Mbak Juminten mungkin telah lama pulang. Aku kembali didera pikiran buruk. Dendamkah dirinya padaku, dapat saja tiba2 orang sekampung timbul mendatangiku dengan tuduhan cabul atas laporan darinya. Hhhh..sudah terjadi, yg kelak urusan nanti.
Aku berangkat kerja agak terlambat keesokan harinya, aku sengaja menantikan mbak Juminten datang, memastikan bahwa kekawatiranku tidak terjadi. Jam 8 mbak Juminten tiba, perasaanku tidak karuan ketika dirinya membuka pintu depan.
“Loh belum kerja den?” Tanyanya, wajah itu terkesan datar, malah ada senyuman kecil menghias bibirnya.
“Ini dah mau jalan mbak, sengaja nunggu mbak dateng..”Jawabku berusaha tenang.
“Hehe..kenapa, takut saya gak bakal dateng lagi ya?” Tertawanya membuatku lega.
“Iya mbak..takut aja, …mm..”
“Mm.. Apa den..?” Lanjutnya sambil tetap berdiri di depanku.
“Maaf yg kmaren mbak…”Jawabku.
“…..ya ndak papa den…mmm..yo wis..lupain aja..” Serunya, dirinya melangkah ke dapur tanpa menantikan reaksiku selanjutnya.
Yah sudahlah, yg jelas tidak bakal ada masalah, dirinya telah menerima perlakuanku kemarin. Aku segera berlalu menuju kantor.
Hari2 selanjutnya berjalan normal, kami hanya berjumpa di akhir pekan, tidak ada bahasan lagi soal momen itu. Mbak Juminten tetap melakukan pekerjaanya dengan baik. Kami hanya sesekali mengobrol basa basi.
Satu bulan berlalu, aku mulai melupakan momen itu. Kerjaanku makin tidak sedikit mendekati akhir tahun. Aku juga makin tidak jarang menghabiskan waktu di luar bersama teman2 di akhir pekan.
Hingga pada sebuahpagi di hari sabtu aku tersadar serta terjebak dalam lamunan mengenai mbak Juminten. Malam itu aku mimpi erotis, dengan mbak Juminten, cairan sperma itu sebagian telah mengering memenuhi celana dalamku.
Dalam mimpi itu aku menggauli mbak Juminten dari belakang, bongkahan pantat itu terpapar jelas dalam penglihatanku. Damn it, kenapa faktor ini kembali menggangguku.
Jam 9 pagi, wanita itu telah datang semacam biasanya. Aku baru saja berakhir mandi serta tengah bersiap utk sarapan.
” Dah sarapan mbak? Ayo ini saya tadi beli dua bungkus nasi uduknya, satu utk mbak..” ujarku sambil tersenyum ramah.
“Makasih den..nanti aja, mbak mau beres2 cucian pakaian dulu..” Jawabnya.
“Santai aja dulu..temenin saya sarapan dulu..” Ntah kenapa pagi itu aku agresif.
“Nggih den, sebentar ambil piring serta sendok dulu..” Jawabnya seraya melangkah ke dapur.
Aku melihat tubuhnya dari belakang, rok merah sepanjang bawah betis itu lumayan jelas mencetak lekukan pinggul, pantat serta pahanya. My gosh, darahku berdesir, mimpi semalam membikin hayalanku makin parah.
Otaku segera bereaksi, mencari jalan pintas, berandai2 seandainya hari ini aku kembali dapat memperdayainya. Aku segera menepis pikiran kurang baik itu.
Mbak Juminten telah kembali, duduk bersebrangan di depanku serta telah bersiap utk makan.
“Gimana berita orang rumah mbak, sehat semua?” Tanyaku basa basi.
“Sehat den…” Jawabnya santai.
“Anaknya kapan mulai sekolah mbak, taun depan?”
“Iya den, rencana taun depan..mdh2an rejekinya lancar..”
“Yaa selama saya di sini tetep aja kerja di sini mbak..klo mbak mau tambahan, mungkin coba mulai masak katering utk anak2 sini, kemaren ada dialog kami di sini soal itu. Pada bosen katanya makan masakan luar, lebih boros juga…” Lanjutku.
“Wahh keren tu den..tapi butuh modal, bunda mertua saya pinter masak..”Jawabnya semangat.
“Gampang soal modal, kelak saya pinjemin..klo mau mulai depan mbak..nanti saya tawarin temen2 saya..”
“Gak enak klo dipinjemin melulu, kasian den Agus..” Jawabnya.
“Yaa klo utk bisnis kenapa gak mbak, sama2 bantu..saya jg kelak minta harga diskon dong..hehe..” Jawabku.
“Hehe..untuk den Agus gratis aja..lha uangnya kan dari aden jg..”
“Yaa gak boleh gitu mbak, bisnis tetep bisnis..”Jawabku.
“Duh saya makin tidak sedikit utang budi dong den..”Lanjutnya.
“Jgn berpikir gitu..saling bantu wajar aja mbak..”
“Yo wis, kelak tidak bilangin sama bunda mertua, dirinya tentu seneng..”
“Iya mdh2an jalan mbak..semangat yg penting..”Jawabku.
Obrolan pagi itu terasa menyenangkan, spertinya dirinya benar2 melupakan kejahatanku waktu itu. Aku merasa lega, meski dalam hati aku mengharapkan kehangatanya lagi. Tentu kelak ada jalannya, sabar aja, setan itu kembali membisiki.
Minggu pagi, keesokan harinya, mbak Juminten datang membawa anak perempuanya ke rumah.
“Maaf yaa den, si Rini saya bawa, mbahnya td pagi dijemput ipar saya ke Solo, mau ada agenda kawinan sodaranya.”
“Yaa gak papa mbak, biar dirinya dapat maen di sini, hei pa berita cantik..” Seruku sambil tersenyum ramah terhadap anaknya.
Bocah itu tersipu serta bersembunyi dibalik kaki ibunya.
“Saya mau jalan dulu ya mbak, ada agenda kawinan anak kantor..siang baru pulang..”
“Nggih den….monggo..” Jawabnya.
Aku segera berlalu, mbak Juminten terkesan manis pagi ini, rambutnya terurai ikal menjuntai ke bahu. Paduan kaos biru serta celana jeans ketatnya itu membuatnya terkesan lebih muda. Well..well..well..kapan kami dapat dapat berdua di kamar lagi mbak, ucapku dalam hati.
Hujan turun dengan lebatnya sesampainya aku kembali di rumah. Sebagian kemeja serta celanaku telah basah kuyup.
“Waah keujanan den..ini dipake handuknya dulu, kelak mbak bikinin aer panas..”Serunya ketika membuka pintu.
“Makasih mbak..” Aku langsung berlalu ke kamar, mengelap kepala serta tubuhku dengan handuk serta mengganti pakaian.
“Rini kemana mbak, kok sepi..” Ujarku ketika duduk diruang tamu.
” Barusan tidur di kamar belakang den..sudah kenyang tidur dia..wah..kenceng ya anginya..”Jawabnnya.
“Iya mbak, telah lama jg gak ujan..”
“Ini mbak bikinin teh anget pake jahe den..diminum..” Lanjutnya.
” mantep nih..makasih mbak..”Jawabku sambil menerima cangkir dari tanganya.
Teh itu tidak terlalu lama mengepul, udara dingin perkebunan ini membuatnya segera tidak begitu panas lagi. Udara diluar gelap seperi senja. Angin menerpa atap seng,menimbulkan suara berisik.
“Masih sibuk mbak, santai aja dulu duduk2 di sini..”Ujarku melihatnya mondar mandir.
“Iya den, sebentar mau mindahin air panas ke termos..”Jawabnya.
Tak lama dirinya menghampiriku dengan membawa sepiring biskuit serta teh utk dirinya. Kami belum mengawali obrolan. Aku tetap sibuk membalas sms teman2ku.
“Mbak gimana kabarnya, urusan yg dulu itu telah selesai..” Ujarku mengawali pembicaraan.
Dia sedikit terusik dengan pertanyaanku.
“Sudah den..mbak telah kapok gak mau lagi maen gituan..gak ada gunanya..”Jawabnya.
“Hehe..iya mbak, ngapain jg..dikerjain bandar aja kalo togel sih..”Jawabku tersenyum.
“Uangnya kelak pelan2 mbak angsur yaa den..maaf..”Lanjutnya.
“Gak papa mbak, santai aja, kelak klo kateringnya lancar mbak dapat dapet tambahan..tenang aja..” Jawabku.
“Makasih den..”
Kami kembali terdiam. Tiba2 aku tergelitik utk bertanya mengenai momen dulu itu. Sedikit ragu apabila itu membuatnya tidak enjoy tapi kalimat itu mengalir tanpa dapat kutahan.
“Mbak..maaf boleh saya nanya..”
“Boleh den..mo nanya apa..”Jawabnya.
“Yg kemaren itu..mbak gak marah dengan saya ?” Lanjutku.
Dia terdiam berbagai saat,aura wajahnya berubah.
“Mmm..mbak ikhlas kok den..salah mbak juga..sudahlah gak papa..”jawabnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela.
“Boleh nanya lagi mbak..” Lanjutku.
“Monggo den..”
“Apa yg mbak rasa waktu itu,..mm..waktu di kamar..” kalimatku makin menjebak.
“….mmmm…gimana ya..gak tau den..”Jawabnya, wajahnya terkesan canggung.
” Sakit..atau jijik mbak..”
“Jijik kenapa..sakit sih iya..” Jawabnya pelan.
“..aden kok dapat begitu waktu itu..mbak ini jauh lebih tua..kok dapat..” Lanjutnya.
” ..nafsu laki2 mbak..liar..kadang gak dapat kontrol..”Jawabku.
“Soal tua sih gak maka soal..jujur aja, mbak tetap luar biasa kok..”Lanjutku makin berani.
“Menarik apanya..aden tetap muda..cari pacar yang muda, cantik..gak susah..”Jawabnya.
“…well..saya tetap belum berminat utk pacaran lagi mbak..”
” Apa yg aden pikir semenjak kejadian itu soal mbak..”Tanyanya kembali.
” Maksudnya..?”
“Yaa apa aden pikir mbak ini maka perempuan gimanaa gitu di pandangan den agus..”
“Saya nyesel sesudahnya mbak, gak tega bikin mbak gitu..yaa selanjutnya saya tetap respek kok sama mbak..”Jawabku.
“..mbak juga nyesel..”
” tapi kalo boleh jujur..maaf yaaa mbak..”
“Apa den..ngomong aja..”Jawabnya penasaran.
“.. Saya pengen ngulangin lagi..saya tau itu gak mungkin..maaf yaa mbak..”Suaraku sedikit bergetar, jantungku berdetak cepat.
“….mmm…apa yg aden cari..mbak semacam ini, perempuan kampung, gak cantik..dah tua lagi..” Wajahnya lekat2 menatapku.
” ..masih tetep luar biasa kok mbak..saya tetap suka inget2 kejadian itu..”Jawabku.
Mbak Juminten tersenyum tipis, aku penasaran apa yg ada dalam pikiranya.
“Apa yg aden inget waktu kejadian itu..” Ujarnya.
“Yaa indah mbak..malem sabtu kemaren saya sempet mimpiin mbak gituan sama saya..sorry..”Jawabku.
“hehe..aden tetap muda, wajar kalo pikiran ke arah itunya tetap kuat, jadi..”
“Sekarang jg lagi mikirin itu mbak..”Aku memotong kalimatnya.
“..hmm…yaaa mbak berat hati utk begitu lg ..takut den..”Jawabnya.
“Kalo saya minta tolong supaya mbak gak takut lagi gimana..”Responku mencecar pikiranya.
“Yaaaa..gimana den..gak usah de..yg telah yaa sudah..”Jawabnya.
Aku paham dirinya tengah dilanda kebingungan, di satu segi dirinya segan menepis godaanku, di segi lain dirinya tidak ingin terjerembab dalam perzinahan bersamaku lagi.
Aku menggeserkan dudukku mendekat. Tanganku memegang jemari tanganya. Wanita ini terkesiap dgn kenekatanku.
“Mbak..gak butuh takut..mbak dapat minta apa aja dari saya..” Ujarku sambil menatap kedua matanya lekat2.
” Jangan den..dosa….”Jawabnya ketakutan.
Tapi dirinya telah terlambat, ciuman bibirku telah mendarat di bibirnya. Aku memagut2 bibir itu pelan.
Wajahnya pucat pasi..antara kaget serta bimbang dengan apa yg dirinya tengah rasa. Aku kembali menciumi wajahnya, bibir kami kembali bertemu, tanganku telah melingkar dengan manis di lehernya.
Dia hanya terdiam..tanpa reaksi. Tidak ada penolakan, aku makin berani merapatkan tubuhku. Hari ini selain bibir serta kurang lebih wajahnya, ciumanku mendarat di leher serta belakang telinganya. Mbak Juminten bergidik, tubuhnya merinding.
Mendung terus gelap diluar, petir sesekali menggelegar diiringi deru angin kencang. Aku berdiri, kedua tanganku menggapai tanganya, menariknya keatas kemudian membawanya melangkah mengikutiku, ke arah kamar…
Mbak Juminten sama sekali tidak bereaksi, dirinya kikuk mengikuti langkahku. Wajahnya takut2 melihatku ketika pintu kamar itu tertutup rapat.
Ruangan kamar lumayan gelap, hanya sebagian tubuh atas kami yg terkesan jelas. Tidak butuh lagi berkata2, segera tuntaskan apa yg ada dalam hati.
Aku membimbingnya utk berbaring diranjang. Wajahnya menatapiku tanpa henti,menanti kejutan2 selanjutnya. Aku kembali menciumi bibir itu, tidak ada balasan berarti darinya. Seluruh leher serta tahap dadanya yg tertutup kaos itu habis ku kecup. Nafas mbak Juminten terdengar menderu.
Tidak butuh lagi basa basi, aku segera melepas habis pakaian yg dikenakanya. Hanya tertinggal bra serta celana dalam lusuh itu menutupi. Tubuhku pun telah hampir telanjang, pakaianku berserakan di lantai. Aku langsung menindih tubuhnya.
Mbak Juminten mendesah, jantungnya terdengar cepat berdetak di telingaku, mulutku tengah puas mencium serta menggigit2 payudaranya yg lumayan besar.
Kulit kami saling menempel, bulu2 diperutku mungkin membuatnya makin merinding. Tanganku telah kesana kemari meraba tubuhnya, jemariku lincah menggosok2 kurang lebih selangkanganya.
Penisku telah sedari tadi diruang tamu mengacung keras, diranjang ini dirinya terus garang menempel serta kadang2 menggesek cocok ditengah2 selangkangan mbak Juminten. Dirinya makin terbuai oleh rangsangan dariku. Wanita ini siap sedia untuku hari ini, aku sangat beruntung.
Akhirnya kami telah sama2 siap tempur. Vaginya telah terkuak lebar serta basah. Permainan lidahku tadi di situ telah membuatnya tanpa sungkan2 merintih serta mencengkram erat kepalaku.
Pahanya terkulai lebar ke samping, aku telah bersiap menusuk. Sedikit demi sedikit batang itu terbenam diiringi dengan rintihan mbak juminten serta desis yg keluar dari mulutku. Kami berpelukan erat ketika penis itu telah sukses menyentuh dasar vaginanya. Oh my gosh, nikmat sekali.
Kami kembali berpagutan, pelan2 aku luar biasa ulur selangkanganku. Mbak Juminten hingga memeluk pantatku merasakan sensasi itu.
“Nikmatilah mbak,nikmati yg telah lama tidak kau rasakan. Usiaku terbukti terlalu muda untukmu, tapi aku mampu memberimu kepuasan,” ujarku dalam hati.
Aku ingin menikmati moment ini lebih lama, aku mengaduk2 kewanitaanya perlahan serta lembut. Suasana begitu romantis.
“Uhh..uhh..shhh..hhhh…” Mbak Juminten mendesah setiap kali aku menusuk selangkanganya. Tanganya lembut memeluk punggungku.
Kami terus berpagutan, pantatku meliuk2 menghantam. Makin lama gerakanku makin cepat. Tenagaku semacam tidak habis membawanya pada kenikmatan. Mungkin lebih dari 15 menit berlangsung, mbak Juminten mulai kewalahan. Jepitan pahanya makin kuat sementara pantatnya tidak henti bergerak ke atas menyambut penisku, nafasnya telah tersengal. Mungkin tidak lama lagi mbak Juminten mencapai klimaks.
“Buuuk..ibuuuk..di manaaa…rini pengen pipis..” Tiba2 suara anaknya terdengar nyaring di depan pintu kamar.
Kami yg tengah melambung terkesiap kaget serta melepas pelukan. Sekejap saja kami telah berdiri, saling bertatapan dalam kebingungan.
“Buuk…ibuuuk..”Lanjut bocah itu.
Damn it..aku menyumpah dalam hati.
“Iya sebentar naaaak..pipis aja di dapur..ada kamar mandi di situ..ibu lagi beresin kamar..sebentar lagi keluar..” Jawab mbak Juminten panik berusaha memungut pakaianya yg berserakan di kasur.
“Iya buk..” Jawab bocah itu.
“Nanti baring aja lagi di kamar, bunda kelak nyusul..”Jawabnya sambil berusaha meraih celana dalamnya.
Aku menahan tanganya, “biar aja mbak..tanggung sebentar lagi..” Ujarku.
“Jangan..nanti dirinya curiga..” Jawabnya menepis tanganku.
“Nggak..sebentar lagi..tenang aja..”Seruku.
“Jangan Den..” Jawabnya, tapi kalimat itu terpotong.
Aku luar biasa tubuhnya, nafsuku telah memuncak. Aku mendorong tubuh telanjangnya menghadap meja kecil di hadapan kami. Dengan sekali kibasan seluruh benda2 kecil di atasnya berlompatan jatuh ke lantai dengan suara yg berisik.
“Den..nanti den…sabar..” Jawabnya kebingungan.
Aku tidak memperdulikan ucapanya. Tubuhnya ku dorong merapat ke pinggir meja, kedua kakinya aku paksa untuk melebar, pantatnya aku tarik ke belakang. Posisi mbak Juminten telah menungging di depanku, belahan pantat itu mempertontonkan lubang anusnya.
Aku menjadi kian brutal, pantat besar serta bahenol itu ku angkat, tahap vagina serta rambut2 halus itu terpampang didepan selangkanganku. Penisku langsung mendekat, langsung menghujam masuk. Pemandangan dibawaku membuatku makin bernafsu.Batang penis itu perlahan menghilang diantara bongkahan pantatnya.
O gosh..nikmat sekali, aku mendesis2 menahan geli. Segera saja tubuhku menyodok2 dengan kuat. Tubuh mbak Juminten maju mundur terpapar seranganku. Sebentar saja dirinya kembali merintih.
Permainan kami berjalan cepat, kekagetan tadi itu meningkatkan selera, bunyi gesekan kemaluan kami mengiringi. Mbak Juminten memutar2 pinggulnya berusaha segera meraih akhir perjuangan. Peniskupun telah semacam ingin meledak.
Tubuhku terus kuat menekannya kedepan, mbak Juminten gemulai memutar pantatnya kesana kemari, makin liar serta binal serta akhirnya dirinya meraih klimaks.
“Uhhhh…uhhh…dennn….aduuuhh..uuhh..huhhu..huh uuu..uuhh..” Jeritnya sambil terisak.
Kedua pahanya mengejang kaku,kepalanya hingga terbaring dipermukaan meja sambil terus merintih tiada henti. Cairan hangat kewanitaanya membasahi penisku di dalam.
Aku ingin segera merasakan faktor yg sama, sodokanku makin cepat melabraknya.Beberapa kali bandul akhirnya pantatku berhenti bergerak bersiap meregang, tanganku kuat mencengkram pinggulnya.
“Cabut den..cabut…jangan didalem..”Serunya panik.
Aku tetap pernah luar biasa penisku keluar cocok ketika spermaku datang menerjang.
“Ahhhhh….mbakkk..oooh…shhh..ahhh…”Jeritk u ketika sperma itu menyemprot panas cocok diatas bongkahan pantat bahenol mbak Juminten.
Sebagian mendarat di dalam belahan pantatnya, mengalir turun menelusuri permukaan anusnya. Jari tangan mbak Juminten menyelusup pada tahap situ, menahan ajaran sperma itu mendekati vaginanya serta menyekanya dengan cepat.
Kami terkesima dengan nafas tersengal. Nikmat tetap menjalari benak kami dalam bisu. Akhirnya permainan ini usai.
Aku terduduk lemas di pinggir ranjang menatap mbak Juminten yg tetap berdiri dari belakang, badanya limbung memegang pinggiran meja. Cairan sperma itu berkilauan pada tahap pantatnya. Juga terkesan cairan putih kental dari dalam vaginanya yg tertahan bulu lebat kemaluan mbak Juminten.
Hujan telah reda ketika kami duduk di ruang tamu. Bocah kecil itu tengah serius melihat tivi di belakang kami. Dirinya tidak menyadari bahwa ibunya baru saja telah bertarung canggih di kamar bersamaku.
Mata kami yg hanya berkata saat itu, apa yg telah terjadi tadi membungkam kami tenggelam dalam pikiran masing2.
Semenjak hari itu hubungan kami berada dalam suasana yg baru. Usaha katering yg kujanjikan berjalan sukes, tarah nasib mbak Juminten meningkat lebih baik.
Hingga hari ini mbak Juminten tetap menemani gairah mudaku yg tidak kenal batas. Ada terbersit dalam hati untuk menikahinya sebuahhari nanti, biarlah waktu yg menentukan akhirnya. Udara dingin perkebunan teh ini membikin kami terus larut.